Poin Penting
- SBY menilai dunia telah memasuki era baru yang ditandai konflik geopolitik, proteksionisme, dan fragmentasi ekonomi global.
- Ketidakpastian global kini bukan lagi kondisi sementara, melainkan telah menjadi tatanan baru yang memengaruhi pemerintah, pasar keuangan, dan masyarakat luas.
- Investor dan industri keuangan perlu menyesuaikan strategi karena asumsi stabilitas global semakin sulit dipertahankan.
Jakarta – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan bahwa dunia saat ini memasuki era baru yang ditandai meningkatnya konflik geopolitik, menguatnya proteksionisme, dan fragmentasi ekonomi global.
Menurutnya, perubahan tersebut, menjadi peringatan serius bagi pelaku industri keuangan dan investor yang selama ini masih mengandalkan asumsi stabilitas global dalam menyusun strategi bisnis dan investasi.
Pernyataan itu disampaikan SBY dalam The 2026 Asia Grassroots Forum Hosted by Amartha yang membahas strategi membangun pertumbuhan ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
Baca juga: SBY: Pertumbuhan Tinggi Tak Menjamin Stabilitas jika Ketimpangan Membesar
Menurutnya, lanskap dunia telah berubah secara mendasar dibandingkan periode pasca-Perang Dingin yang ditandai oleh ekspansi globalisasi, peningkatan perdagangan internasional, dan integrasi ekonomi yang semakin erat.
“Dunia saat ini sedang memasuki era baru ketidakpastian,” ujar SBY di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menilai berbagai negara, termasuk di Asia, selama beberapa dekade menikmati manfaat besar dari keterbukaan ekonomi global. Namun, kondisi tersebut kini menghadapi tantangan yang semakin berat.
SBY: Ketidakpastian Tak Lagi Bersifat Sementara
SBY menegaskan bahwa perubahan lingkungan global tidak lagi bersifat sementara, melainkan telah menjadi karakter utama sistem internasional saat ini.
“Persaingan geopolitik semakin intensif, perang dan konflik terus berlangsung di berbagai belahan dunia, fragmentasi ekonomi semakin terlihat, proteksionisme kembali menguat, rantai pasok sedang direorganisasi, dan gangguan iklim semakin cepat terjadi,” kata SBY.
Selain itu, percepatan transformasi teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi, juga menciptakan tantangan baru karena bergerak lebih cepat dibanding kemampuan banyak institusi dan masyarakat untuk beradaptasi.
Menurutnya, dampak ketidakpastian tersebut tidak hanya dirasakan pemerintah maupun pasar keuangan, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat luas, mulai dari pekerja, petani, pelaku usaha hingga generasi muda.
“Dalam banyak hal, ketidakpastian tidak lagi bersifat sementara; ia sedang menjadi tatanan baru yang kita hadapi setiap hari,” tegasnya.
Baca juga: SBY Sebut Ketahanan Bangsa Dibangun dari Kekuatan Ekonomi Akar Rumput
Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi investor dan pelaku industri keuangan yang selama ini mengandalkan proyeksi ekonomi global yang relatif stabil.
Dalam situasi saat ini, risiko geopolitik dan perubahan struktur ekonomi dunia menjadi faktor yang semakin menentukan arah investasi dan pertumbuhan.
SBY Dorong Pertumbuhan yang Tangguh dan Inklusif
Di tengah situasi global yang tidak menentu, SBY menilai fokus negara-negara berkembang tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah membangun pertumbuhan yang tetap tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.
Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup apabila diiringi ketimpangan yang melebar, menurunnya kepercayaan publik, serta meningkatnya fragmentasi sosial.
“Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: bagaimana kita membangun pertumbuhan yang tetap tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di dunia yang terfragmentasi?” ujarnya.
Baca juga: Moody’s Beri Outlook Negatif ke Danantara, Ini Penjelasan Praktisi Pasar Modal
Karena itu, ia menilai pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus ditempatkan sebagai agenda ekonomi strategis, bukan sekadar program sosial.
Dalam pandangannya, ketahanan ekonomi suatu bangsa justru dibangun dari lapisan masyarakat paling bawah yang mampu beradaptasi saat terjadi guncangan global.
SBY: ASEAN Bisa Jadi Penyeimbang di Tengah Polarisasi Dunia
SBY juga menyoroti peran Indonesia dan ASEAN yang dinilai semakin penting di tengah meningkatnya polarisasi kekuatan global.
Ia menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara memiliki modal besar untuk menjadi jembatan dialog dan kerja sama internasional ketika rivalitas antarnegara besar semakin menguat.
Menurutnya, ASEAN memiliki nilai strategis bukan karena kekuatan militernya, melainkan karena kemampuannya menjaga moderasi, stabilitas, dan keseimbangan di tengah dunia yang terpecah.
“Di dunia yang terfragmentasi, relevansi ASEAN semakin meningkat,” katanya.
Baca juga: Purbaya Bantah Isu Digeser dari Kursi Menteri Keuangan: Enggak Benar Lah
Meski demikian, SBY tetap optimistis terhadap masa depan Asia dan Indonesia. Ia meyakini kawasan ini memiliki modal kuat berupa populasi muda, ekosistem digital yang berkembang, wirausahawan yang dinamis, serta masyarakat yang tangguh menghadapi perubahan.
SBY menegaskan bahwa masa depan dunia akan sangat ditentukan oleh pilihan para pemimpin dalam menghadapi ketidakpastian.
Menurutnya, kerja sama, inklusi, dan visi jangka panjang menjadi kunci agar periode penuh gejolak ini dapat diubah menjadi peluang bagi pembaruan dan pertumbuhan berkelanjutan. (*)
Editor: Yulian Saputra


