Poin Penting
- Bluebird menilai kenaikan BBM nonsubsidi belum berdampak signifikan karena mayoritas armadanya masih menggunakan Pertalite dan Biosolar.
- Perseroan lebih mewaspadai dampak ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi mobilitas masyarakat dan permintaan transportasi.
- Bluebird tetap optimistis mempertahankan pertumbuhan bisnis seiring masih positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Jakarta – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi belakangan menjadi perhatian pelaku usaha, terutama di sektor transportasi yang sangat bergantung pada biaya operasional kendaraan. Namun, PT Blue Bird Tbk (BIRD) menilai dampak kenaikan harga BBM tersebut terhadap bisnis perseroan masih relatif terbatas.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto Djokosoetono, mengatakan mayoritas armada angkutan umum yang dioperasikan Bluebird masih menggunakan BBM subsidi, yakni Pertalite dan Biosolar.
Karena itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertadex belum memberikan pengaruh signifikan terhadap biaya operasional perusahaan.
“BBM yang naik kan masih Pertamax ke atas, Pertadex ke atas juga. Jadi kalau mayoritas di PT Bluebird Tbk untuk angkutan umum masih menggunakan Pertalite dan Biosolar. Jadi secara mayoritas operasionalnya tidak berpengaruh terhadap kenaikan Pertamax,” jelas pria yang arab disapa Andre ini saat ditemui usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (18/6).
Baca juga: Harga Pertamax Naik Tinggi, Warga Mulai Pertimbangkan Beralih ke Pertalite
Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah lini usaha yang menggunakan BBM nonsubsidi. Namun, kontribusi segmen tersebut terhadap keseluruhan bisnis Bluebird masih relatif kecil sehingga dampaknya terhadap kinerja perusahaan belum material.
“Tentu ada divisi kami yang memang menggunakan Pertamax juga. Tapi impact-nya tidak besar karena kontribusi dari divisi tersebut masih kecil,” katanya.
Di sisi lain, Andre menilai tantangan yang perlu diwaspadai bukan hanya kenaikan harga BBM, tetapi juga dampak lanjutan dari ketidakpastian ekonomi global yang mulai terasa pada kuartal II-2026.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang menjadi salah satu penopang permintaan layanan transportasi.
Kendati demikian, Bluebird masih optimistis dapat mempertahankan tren pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun. Perseroan mencatat kinerja yang masih positif pada kuartal pertama dan berharap momentum tersebut dapat terus berlanjut.
“Untuk tahun ini yang sejauh sudah kita disclose di kuartal I year on year masih growth secara positif. Disrupsi global economy memang terasa di kuartal II, tetapi kita masih optimis bahwa kita tetap bisa tumbuh minimal sama seperti tahun lalu. Kalau bisa tentu pertumbuhannya lebih bagus,” ujar Andre.
Baca juga: Rahasia Bluebird (BIRD) Cetak Pendapatan Tertinggi sejak IPO, Strategi 3M jadi Kunci
Menurutnya, fluktuasi harga minyak dunia memang tidak berdampak langsung terhadap operasional utama perusahaan. Namun, efek tidak langsungnya dapat dirasakan melalui perubahan pola mobilitas masyarakat maupun wisatawan, baik domestik maupun internasional.
“Harga oil memang tidak terpengaruh langsung. Tetapi kan ter-impact juga terhadap mobilitas regional maupun internasional. Karena itu juga salah satu segmen yang menjadi market kami,” imbuhnya.
Andre juga menambahkan, selama perekonomian Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif, Bluebird tetap memiliki ruang untuk berkembang. Perseroan pun optimistis dapat tumbuh sejalan dengan laju ekonomi nasional.
“Secara makro kalau Indonesia masih positive growth, kita tetap optimis bahwa kita juga bisa positive growth bersama GDP growth Indonesia,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri


