Oleh Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi FISIP Universitas Airlangga
“CARILAH modal sampai ke Negeri Tiongkok”. Kalimat ini mewakili apa yang kini dilakukan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Tiongkok.
Kunjungan Purbaya ini, selain melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), sebetulnya lawatan ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat akses pembiayaan pembangunan, memperluas basis investor, serta memperdalam kemitraan ekonomi dengan negara-negara mitra strategis – termasuk Tiongkok.
Di tengah gejolak ekonomi global yang menekan, Indonesia memang sudah seharusnya mengembangkan diversifikasi mitra potensial serta sekaligus memperluas sumber pembiayaan kompetitif. Tidak mungkin Indonesia hanya menggantungkan diri pada mitra luar negeri konvensional, terutama Amerika Serikat (AS).
Dengan mempererat hubungan kemitraan dengan Tiongkok, Indonesia berharap dapat membangun fondasi pembiayaan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Purbaya menyatakan, kunjungannya ke Beijing merupakan bagian dari strategi pembiayaan jangka panjang yang telah direncanakan secara matang, sekaligus mencerminkan komitmen Indonesia untuk terus memperluas sumber pembiayaan alternatif dan memperkuat kepercayaan investor internasional.
Baca juga: Global Bond Danantara Laris Manis di Tengah Outflow Asing: Kepercayaan Pasar atau Duit Konglo Indonesia yang “Menyamar”?
Panda Bond
Salah satu agenda utama dari kunjungan kerja Purbaya ke Tiongkok adalah mempersiapkan penerbitan sovereign Panda Bond. Instrumen baru tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas basis investor dari luar negeri, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok.
Penerbitan sovereign Panda Bond juga diharapkan dapat mendukung penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral (local currency transaction/LCT), serta mendorong pendalaman kerja sama keuangan kedua negara.
Panda Bond adalah surat utang berdenominasi yuan atau renminbi (RMB) yang dipasarkan langsung di dalam pasar domestik Tiongkok. Penerbitan Panda Bond ini bukan sekadar bertujuan untuk mencari jalur utang baru, melainkan sebuah manuver strategis untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang yang selama ini mendominasi, yakni dolar AS, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari guncangan eksternal.
Di sini alasan pemerintah melirik Panda Bond adalah biaya pendanaan yang lebih efisien dan kompetitif. Di tengah tren suku bunga global yang masih ketat, pasar keuangan Tiongkok menawarkan imbal hasil atau yield yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan penerbitan surat utang berbasis dolar AS.
Data terkini menunjukkan bahwa perkiraan yield untuk obligasi ini berada di kisaran 2,3% hingga 2,5%. Di saat biaya dana (cost of fund) global meningkat akibat kebijakan moneter negara barat, menawarkan kupon di kisaran tersebut merupakan penghematan yang luar biasa bagi kas negara.
Efisiensi ini memberikan ruang fiskal yang lebih longgar bagi pemerintah untuk mengalokasikan dana ke sektor-sektor prioritas dalam negeri. Sebagai instrumen diversifikasi, Panda Bond juga membebaskan Indonesia dari jebakan ketergantungan absolut pada dolar AS.
Ketergantungan berlebih pada mata uang greenback membuat portofolio utang negara sangat rentan terhadap kebijakan Federal Reserve atau dinamika geopolitik di Washington. Dengan mengalihkan sebagian porsi utang ke mata uang yuan, harapannya Indonesia dapat membangun fondasi portofolio utang yang lebih seimbang.
Secara normatif, ada banyak kelebihan dan manfaat yang bakal kita petik sehubungan dengan penawaran Pando Bond bagi masyarakat di Tiongkok. Bagi pemerintah, penerbitan Panda Bond menjadi instrumen penting dalam agenda dedolarisasi dan diversifikasi sumber pembiayaan.
Dengan merambah pasar obligasi Tiongkok, Indonesia membuka akses langsung ke salah satu pasar modal terbesar dan paling likuid di Asia. Hal ini tidak hanya memperluas basis investor Indonesia ke kawasan Asia Timur, tetapi juga membuat portofolio utang negara lebih seimbang dan tahan terhadap volatilitas mata uang tertentu.
Kendati menawarkan banyak keuntungan, bukan berarti Panda Bond tidak memiliki hal-hal yang perlu diwaspadai. Ada beberapa dampak atau risiko yang harus dikelola dengan cermat.
Pertama, risiko nilai tukar (mata uang RMB terhadap rupiah). Jika nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap yuan saat obligasi jatuh tempo, beban pembayaran pokok utang dalam mata uang lokal bisa membengkak. Untuk memitigasi hal ini, pemerintah harus mengoptimalkan instrumen lindung nilai (hedging) agar biaya akhirnya tetap rasional dan efisien.
Kedua, risiko konsentrasi geopolitik dan ekonomi. Ketergantungan pada pasar Tiongkok membuat Indonesia rentan terhadap dinamika ekonomi domestik Negeri Tirai Bambu tersebut. Jika ekonomi Tiongkok melambat atau terjadi pengetatan likuiditas di sana, biaya penerbitan Panda Bond di masa depan bisa ikut terdongkrak.
Oleh karena itu, penerbitan Panda Bond harus selalu dibarengi dengan praktik diversifikasi pasar lainnya, misalnya dengan membidik pasar Eropa atau Timur Tengah.
Ketiga, kecenderungan investor global – termasuk dari Tiongkok – selalu melihat kepastian hukum, stabilitas politik, serta arah kebijakan ekonomi di Indonesia. Kunjungan rutin para pengambil kebijakan Indonesia untuk memaparkan solidnya fundamental ekonomi nasional, rasio utang yang terkendali, dan pertumbuhan yang positif merupakan langkah tepat untuk terus menjaga kepercayaan pasar.
Manfaat
Dengan menerbitkan Panda Bond ke pasar Tiongkok, secara garis besar Indonesia akan mendapatkan paling tidak tiga keuntungan sekaligus: diversifikasi sumber pembiayaan, efisiensi biaya bunga, dan penguatan nilai tukar.
Sepanjang mampu dikelola dengan baik, Panda Bond akan menjadi pilar penting yang tidak hanya menambal kebutuhan pembiayaan negara, tetapi juga mentransformasikan sistem keuangan Indonesia agar lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
Penerbitan instrumen Panda Bond bukan sekadar alat untuk menutup defisit APBN, melainkan strategi jangka panjang yang visioner. Dengan memberikan bunga yang lebih murah, mendiversifikasi risiko, dan memperkuat kerja sama mata uang lokal, pemerintah secara taktis akan dapat mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Penerbitan Panda Bond membuktikan bahwa dengan fondasi ekonomi yang kokoh dan kebijakan fiskal yang disiplin, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan dengan kekuatan ekonomi raksasa seperti Tiongkok.
Mengasong Panda Bond sampai ke Tiongkok bukan hanya untuk mencari utang baru dengan bunga yang murah. Kebijakan ini memiliki korelasi erat dan mendukung program pemerintah terkait LCT atau penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal.
Baca juga: Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond Demi Kurangi Ketergantungan Dolar
Sebagaimana diketahui, Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Dengan menerbitkan obligasi berdenominasi yuan, ekosistem keuangan yang terhubung antarkedua negara akan makin dalam. Hal ini akan memudahkan pelaku usaha Indonesia yang melakukan impor bahan baku dari Tiongkok, maupun eksportir yang menjual komoditas ke Negeri Tirai Bambu tersebut, untuk melakukan lindung nilai (hedging) dengan lebih mudah.
Integrasi keuangan ini pada akhirnya akan mengurangi friksi biaya konversi mata uang dalam perdagangan internasional, sekaligus menjaga stabilitas rupiah secara tidak langsung. Bagaimana pendapat Anda?


