Poin Penting
- Saham BYAN turun 4,90 persen menjadi Rp13.100 pada perdagangan 10 September 2026.
- Tawaran sekitar USD3 miliar disebut menyasar 62 persen saham Bayan Resources milik keluarga Low Tuck Kwong.
- Nilai tawaran tersebut sekitar 80 persen di bawah nilai pasar saham yang menjadi sasaran.
Jakarta – Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) anjlok 4,90 persen setelah muncul kabar tawaran akuisisi oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Saham perusahaan tambang batu bara itu ditutup di level Rp13.100 pada Kamis, 10 September 2026.
Penurunan tersebut mencapai 675 poin dalam perdagangan sehari. Padahal, saham BYAN masih mencatat kenaikan 8,94 persen selama 30 hari terakhir.
Kabar akuisisi tersebut muncul setelah entitas yang dikendalikan Haji Isam disebut mengajukan tawaran sekitar USD3 miliar secara tunai. Mengutip Bloomberg, tawaran tersebut menyasar saham milik keluarga Low Tuck Kwong.
Baca juga: Rumor Haji Isam Mau Caplok BYAN Mencuat, Begini Respons Bayan Resources
Tawaran tersebut disebut menyasar sekitar 62 persen saham Bayan Resources yang terutama dimiliki Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low.
Low Tuck Kwong menguasai sekitar 40 persen saham perseroan, sedangkan Elaine Low memiliki sekitar 22 persen saham.
Dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, nilai tawaran tersebut setara sekitar Rp52,5 triliun. Namun, negosiasi masih berlangsung dan belum mencapai kesepakatan final.
Jika seluruh persyaratan disepakati, transaksi berpotensi rampung sebelum akhir 2026. Meski demikian, belum ada kepastian transaksi tersebut akan terealisasi.
Nilai Tawaran Jauh di Bawah Kapitalisasi Pasar
Bayan Resources memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD26 miliar. Berdasarkan nilai tersebut, 62 persen saham secara teoritis bernilai sekitar USD16,12 miliar.
Dengan nilai tawaran sekitar USD3 miliar, harga tersebut terpaut jauh dari nilai pasar. Tawaran itu mencerminkan diskon sekitar 80 persen dibandingkan nilai pasar yang menjadi sasaran.
Secara implisit, tawaran tersebut menempatkan valuasi Bayan Resources sekitar USD4,84 miliar. Namun, perbedaan dengan harga pasar tidak serta-merta menentukan nilai transaksi blok saham dalam jumlah besar.
Porsi saham publik BYAN yang relatif terbatas juga membuat perdagangan sahamnya cenderung tipis.
Harga saham di pasar reguler belum tentu mencerminkan nilai transaksi blok besar. Penjualan saham mayoritas secara privat dapat dilakukan dengan harga berbeda dari harga pasar.
Baca juga: Pelemahan Berlanjut, IHSG Sesi I Turun 1,49 Persen ke 6.490
Prospek batu bara termal turut menjadi pertimbangan dalam transaksi tersebut. Komoditas ini menghadapi tekanan seiring peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih.
Industri batu bara Indonesia juga menghadapi pembatasan produksi. Pemerintah memangkas sejumlah kuota produksi untuk membantu menopang harga batu bara.
Bayan Resources disebut menjadi salah satu perusahaan yang cukup terdampak kebijakan tersebut. Sementara itu, BUMI dan AADI relatif lebih sedikit terdampak.
Akuisisi Bisa Memperkuat Posisi Haji Isam
Pembayaran transaksi kemungkinan dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan kedua pihak. Pendanaan juga disebut berpotensi berasal dari bank-bank milik pemerintah Indonesia.
Namun, pembicaraan tersebut belum menjamin tercapainya kesepakatan. Perwakilan Haji Isam, Bayan Resources, dan keluarga Low belum memberikan komentar kepada publik.
Bayan Resources sebelumnya telah menyampaikan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen menyatakan tidak mengetahui rencana pengambilalihan sekitar 62,2 persen saham perseroan.
Perseroan menyebut pemegang saham pengendali tetap dapat mempertimbangkan berbagai peluang untuk memaksimalkan investasi yang dimiliki.
Baca juga: Kejar Free Float, Emiten Milik Haji Isam PGUN Lepas 4,8 Persen Saham ke Publik
Haji Isam merupakan pengusaha asal Kalimantan yang mengendalikan Jhonlin Group. Kelompok usaha tersebut juga memiliki bisnis pertambangan batu bara.
Jhonlin disebut telah mengajukan kuota produksi sekitar 60 juta ton untuk 2026. Jika transaksi terealisasi, posisi Haji Isam di industri batu bara nasional akan semakin kuat.
Baca juga: Daftar Saham Penopang IHSG Sepekan: BYAN, BBRI, hingga BBCA
Bayan Resources merupakan salah satu produsen batu bara besar Indonesia. Perseroan juga mengoperasikan sejumlah fasilitas pelabuhan untuk mendukung bisnisnya.
Bayan menjual sekitar 68 juta metrik ton batu bara pada tahun lalu. Pada periode tersebut, perseroan membukukan pendapatan sekitar USD3,4 miliar.
Forbes Real-Time Billionaires mencatat Low Tuck Kwong sebagai orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya mencapai USD18,8 miliar atau sekitar Rp329,13 triliun.
Forbes menempatkan Low pada peringkat ke-147 orang terkaya dunia. Data tersebut tercatat pada 9 September 2026.
Low dikenal sebagai “coal king” karena kekayaannya berasal dari bisnis batu bara. Ia mendirikan Bayan Resources pada 2004.
Baca juga: Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia 2026, Total Hartanya Rp1.950 Triliun
Bayan Resources bergerak dalam penambangan, pengolahan, dan perdagangan batu bara. Data Forbes mencatat pendapatan perusahaan mencapai USD3,4 miliar.
Perseroan juga membukukan laba sebesar USD741,7 juta. Angka tersebut berasal dari data keuangan 2026 yang dihimpun Forbes.
Dengan demikian, rencana akuisisi masih berada dalam tahap negosiasi. Investor perlu mencermati keterbukaan informasi sebelum menyimpulkan kesepakatan dengan Haji Isam. (*)
Editor: Yulian Saputra


