Poin Penting
- Laba bersih Kalbe Farma turun 2,8 persen menjadi Rp1,91 triliun pada semester I 2026, meski penjualan bersih tumbuh 14 persen menjadi Rp19,47 triliun
- Tekanan margin meningkat akibat ketidakpastian geopolitik, pelemahan rupiah, serta ketergantungan bahan baku impor
- Kalbe menyiapkan strategi kenaikan harga selektif, optimalisasi portofolio produk bermargin tinggi, serta peningkatan TKDN untuk menekan tekanan biaya.
Jakarta – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan penurunan laba bersih pada semester I 2026. Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp1,91 triliun, turun 2,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,97 triliun.
Di tengah penurunan laba, penjualan bersih KLBF masih tumbuh 14 persen menjadi Rp19,47 triliun pada semester I 2026, dari Rp17,07 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, peningkatan penjualan tersebut diikuti kenaikan beban penjualan. Pada semester I 2026, beban penjualan KLBF meningkat menjadi Rp3,85 triliun, dibandingkan Rp3,58 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Gandeng Livzon Group, Kalbe Dirikan Anak Usaha dengan Investasi Rp650 Miliar
Direktur Keuangan KLBF, Kartika Setiabudy, menuturkan bahwa penurunan laba tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah. Pasalnya, biaya produksi perseroan masih bergantung pada harga bahan baku yang diimpor.
“Untuk tahun ini kami melihat bahwa tekanan terhadap margin ini akan tetap ada karena memang secara fundamental kondisi rupiah memang akhir-akhir ini sudah ada penguatan tapi karena ada dampak dari inventory juga mungkin sepanjang tahun ini kami belum melihat adanya perbaikan margin secara signifikan,” ucap Kartika dalam Public Expose Live di Jakarta, 11 September 2026.
Strategi Genjot Kinerja
Menghadapi tekanan tersebut, Kartika mengatakan perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya dengan melakukan kenaikan harga secara selektif pada sejumlah produk konsumen.
“Secara jangka panjang, kita juga sudah mulai melihat ke arah strategi TKDN walaupun memang strategi TKDN ini sesuatu yang sudah kita lakukan secara berkelanjutan di sektor obat resep di mana seluruh pabrik kami adalah lokal walaupun secara bahan baku masih cukup terbatas sourcing secara lokal,” imbuhnya.
Baca juga: Kalbe Farma Targetkan Laba Bersih Tumbuh 15 Persen, Begini Strateginya
Sementara itu, pada segmen medical device atau alat kesehatan, KLBF juga mulai meningkatkan upaya pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Sejumlah proyek telah dijalankan, khususnya untuk produk medical equipment.
“Ini masih menjadi suatu kendala atau tantangan untuk perusahaan dan kita akan berupaya untuk baik secara jangka pendek atau jangka menengah kita akan melakukan beberapa strategi kenaikan harga dan juga kita akan melakukan secara portfolio management supaya kita bisa mengoptimalkan kontribusi produk-produk yang memiliki margin lebih baik,” tutup Kartika. (*)
Editor: Galih Pratama


