Poin Penting
- Red Hat Tech Day menyoroti tantangan adopsi AI: biaya, keamanan, dan regulasi
- Perusahaan menghindari vendor lock-in dengan pendekatan open source yang lebih fleksibel
- Studi kasus Bussan Auto Finance dan Pegadaian menunjukkan AI meningkatkan efisiensi dan kecepatan bisnis.
Jakarta – Di tengah gempuran tren kecerdasan buatan (AI), banyak perusahaan berlomba menjadi yang paling cepat mengadopsi teknologi tersebut.
Namun di balik fenomena itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar, bagaimana perusahaan bisa mengembangkan AI tanpa kehilangan kendali atas biaya, keamanan data, hingga kepatuhan regulasi?
Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam ajang Red Hat Tech Day: Jakarta yang digelar di Mandarin Oriental Jakarta, Kamis (30/4).
Acara ini mempertemukan para pelaku industri teknologi, perusahaan, hingga pengambil keputusan IT untuk membahas realitas implementasi AI dan transformasi digital yang kini semakin kompleks.
Baca juga: AI Kian Diadopsi Bisnis, Infrastruktur Digital Masih jadi Kendala
Berbeda dari banyak forum teknologi yang sibuk menjual mimpi masa depan AI, Red Hat Tech Day justru menyoroti sisi paling nyata, bagaimana AI benar-benar dijalankan di lapangan.
Country Manager Indonesia Red Hat, Vony Tjiu, mengatakan banyak perusahaan kini mulai menyadari bahwa transformasi digital bukan sekadar soal mengadopsi teknologi terbaru, tetapi juga bagaimana menjaga fleksibilitas bisnis di tengah perubahan cepat.
“Perusahaan ingin bergerak cepat dengan AI, tetapi mereka juga ingin tetap punya kendali. Kendali terhadap biaya, keamanan, kepatuhan, dan bagaimana teknologi itu bisa terus berkembang tanpa bergantung pada satu vendor,” ujarnya.
Menurut Vony, pendekatan open source menjadi semakin relevan karena memberi ruang bagi perusahaan untuk berinovasi tanpa terkunci dalam ekosistem tertentu.
“Organisasi sekarang membutuhkan platform yang terbuka dan fleksibel. Mereka ingin bisa membangun dan mengembangkan AI sesuai kebutuhan bisnis mereka sendiri,” katanya.
Isu vendor lock-in atau ketergantungan pada satu penyedia teknologi memang menjadi kekhawatiran baru di tengah booming AI.
Banyak perusahaan mulai khawatir bahwa investasi besar pada teknologi AI justru dapat menciptakan ketergantungan jangka panjang yang mahal dan sulit dikendalikan.
Hal itu juga disoroti oleh Director AI Platform Asia Pacific Red Hat, Steve Shirkey, dalam keynote bertajuk Innovate freely, operate efficiently: Build on a unified AI and application platform.
Ia menilai perusahaan saat ini membutuhkan fondasi teknologi yang memungkinkan mereka mengembangkan AI secara lebih terbuka dan efisien.
“AI tidak boleh menjadi sesuatu yang membatasi pilihan organisasi. Perusahaan harus bisa berinovasi dengan bebas, tetapi tetap efisien dalam operasionalnya,” ucapnya.
Tak hanya bicara konsep, acara ini juga menghadirkan pengalaman nyata dari perusahaan yang sedang menjalani transformasi digital.
Baca juga: Garap Pasar AI Data Center, Panduit Indonesia Targetkan Bisnis Tumbuh 35 Persen
Salah satunya datang dari PT Bussan Auto Finance yang membagikan perjalanan mereka beralih dari sistem monolitik ke arsitektur hybrid cloud-native.
Transformasi tersebut disebut mampu mempercepat proses deployment dan meningkatkan fleksibilitas operasional perusahaan pembiayaan tersebut.
Sementara PT Pegadaian (Persero) menyoroti sisi yang lebih dekat dengan realitas operasional sehari-hari. Perusahaan pelat merah itu membahas bagaimana otomatisasi diterapkan dalam jaringan operasional yang besar dan tersebar luas, guna mengurangi pekerjaan manual dan meningkatkan respons layanan. (*) Alfi Salima Puteri




