Poin Penting
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan membantu BI menjaga stabilitas rupiah yang melemah hingga Rp17.511 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah
- Pemerintah akan mengaktifkan skema Bond Stabilization Fund (BSF) mulai besok untuk melakukan intervensi di pasar obligasi guna meredam tekanan rupiah
- Meski pemerintah ikut turun tangan, Purbaya menegaskan stabilitas nilai tukar tetap menjadi tugas utama BI sebagai otoritas moneter.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bakal membantu Bank Sentral alias Bank Indonesia (BI) untuk mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Adapun, nilai tukar rupiah per pukul 11.34 WIB tembus ke level Rp17.511 per dolar AS atau melemah 0,56 persen dibandingkan pembukaan perdagangan hari ini Selasa (12/5/2026). Artinya, ini menjadi level baru terlemah sepanjang sejarah.
Baca juga: Bos BI Tegaskan All Out Jaga Stabilitas Rupiah
Purbaya menyatakan, akan berupaya membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan memanfaatkan skema intervensi di pasar surat berharga atau bond market melalui Bond Stabilization Fund (BSF).
“Kita akan mulai membantu besok dengan masuk ke bond market. Dengan Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya. Kita aktifin di instrumen yang kita punya di sini dulu, besok mulai jalan,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Baca juga: Bank Mandiri Proyeksikan Rupiah Tembus Rp17.135 per Dolar AS di Akhir 2026
Meski demikian, Purbaya mengatakan menaruh kepercayaan penuh kepada BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan yang terjadi.
“Tugas Bank Sentral hanya satu kan, menjaga stabilitas nilai tukar dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana,” ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama


