Poin Penting
- Ekonom Bank Permata memperkirakan BI akan menahan BI Rate di level 5,50 persen.
- Stabilitas rupiah mengurangi urgensi kenaikan suku bunga acuan.
- Peluang BI mempertahankan suku bunga diperkirakan mencapai 80-90 persen.
Jakarta – Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai peluang Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate semakin kecil seiring mulai pulihnya nilai tukar rupiah. Saat ini, BI Rate berada di level 5,50 persen.
Menurut Josua, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei dan tambahan 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan 9 Juni 2026 sudah menjadi sinyal kuat bahwa BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Skenario dasar saya adalah BI menahan BI Rate di 5,50 persen, karena BI sudah melakukan kenaikan cukup agresif sebesar 75 bps dalam waktu kurang dari satu bulan,” kata Josua, Rabu, 17 Juni 2026.
Baca juga: BI Mendadak Kerek Suku Bunga Acuan jadi 5,50 Persen, Ini Analisis Syailendra
Josua menjelaskan, membaiknya pergerakan rupiah menjadi faktor utama yang mengurangi kebutuhan BI untuk kembali menaikkan suku bunga.
Menurutnya, kebijakan pengetatan sebelumnya bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar, menarik kembali aliran modal asing, serta mengendalikan ekspektasi inflasi.
“Jika rupiah sudah bergerak lebih stabil, harga minyak turun, dan aliran dana asing mulai masuk kembali ke instrumen rupiah, maka urgensi kenaikan lanjutan berkurang,” ucapnya.
Dalam kondisi tersebut, BI dinilai lebih memilih menunggu transmisi kebijakan moneter sebelumnya sebelum mengambil langkah lanjutan.
Kebijakan The Fed Tetap Jadi Faktor Penentu
Meski demikian, Josua menilai arah kebijakan moneter BI tetap dipengaruhi oleh keputusan Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan dolar Amerika Serikat.
Jika bank sentral AS kembali memberikan sinyal suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher for longer) atau membuka peluang kenaikan lanjutan, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.
Namun, menurutnya, BI masih memiliki berbagai instrumen selain suku bunga untuk menjaga stabilitas pasar, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), intervensi di pasar valuta asing, penguatan imbal hasil instrumen moneter, serta insentif lindung nilai (hedging)
“Jadi, saya melihat peluang BI menahan suku bunga lebih besar, sekitar 80-90 persen. Peluang kenaikan lagi sebesar 25bps tetap ada, tetapi lebih sebagai skenario risiko jika rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS, harga minyak naik lagi, imbal hasil surat utang Amerika Serikat meningkat, atau pasar membaca pernyataan The Fed secara sangat ketat,” ujarnya.
Baca juga: Bank Sentral Jepang Kerek Suku Bunga jadi 1 Persen, Tertinggi dalam 31 Tahun Terakhir
BI Perlu Jaga Stabilitas Tanpa Membebani Pertumbuhan
Josua menilai kenaikan BI Rate tambahan bukan merupakan skenario utama, melainkan opsi yang dapat digunakan apabila tekanan terhadap pasar keuangan kembali meningkat.
Ia mengingatkan, kenaikan suku bunga yang terlalu cepat dapat meningkatkan biaya dana perbankan, membuat bunga kredit sulit turun, menahan konsumsi dan investasi, serta meningkatkan biaya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
“Dalam kondisi ekonomi yang masih membutuhkan dukungan pertumbuhan, kenaikan suku bunga tambahan harus benar-benar dipakai hanya jika stabilitas rupiah kembali terancam secara serius,” tambahnya.
Baca juga: Sepekan, BI Naikkan Suku Bunga hingga AS-Iran Sepakat Damai, Sentimen Pasar Berubah Arah
Karena itu, Josua menilai, strategi terbaik bagi BI saat ini adalah mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen sembari tetap menyampaikan sinyal kebijakan yang tegas kepada pasar.
“Dengan cara ini, BI tetap menjaga kepercayaan pasar tanpa langsung menambah beban ke sektor riil,” pungkas Josua. (*)
Editor: Yulian Saputra


