Poin Penting
- Literasi dan inklusi asuransi di Indonesia masih tergolong rendah.
- Rasa rugi jika tidak melakukan klaim menjadi salah satu alasan masyarakat enggan memiliki asuransi.
- Pengalaman negatif orang lain juga memengaruhi persepsi masyarakat terhadap produk asuransi.
Jakarta – Masyarakat Indonesia belum mengutamakan asuransi sebagai salah satu instrumen keuangan dalam keseharian. Salah satu buktinya tecermin dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal-I 2026.
Dari 10.800 responden berusia 15-79 tahun, literasi masyarakat Indonesia soal asuransi masih di angka 45,45 persen. Tingkat inklusinya malah lebih rendah, yakni sebesar 28,50 persen.
Certified Financial Planner Melvin Mumpuni menyebut bahwa setidaknya ada dua alasan kenapa masyarakat di Indonesia belum banyak yang menggunakan asuransi. Yang pertama adalah karena mereka merasa rugi jika asuransi tidak diklaim.
“Jadi secara psikologi, mereka merasa tidak langsung mendapatkan benefit (asuransi), kalau nggak diklaim,” terang Melvin pada acara OVOFinTalk 2026: Bijak di Era Cashless, Rabu, 17 Juni 2026.
Baca juga: OECD Puji Reformasi OJK di Sektor Asuransi dan Dana Pensiun
Padahal, seharusnya asuransi merupakan salah satu instrumen investasi yang bertujuan untuk menjaga pemegang polis dari biaya perawatan rumah sakit yang terbilang mahal. Kehadiran asuransi mampu meminimalisir risiko keuangan yang hilang ketika jatuh sakit.
Hal ini sejalan dengan dengan tingginya inflasi medis di Indonesia dari tahun ke tahun. Pada 2025, persentasenya mencapai 13,6 sampai dengan 19 persen. Tanpa asuransi, seseorang bisa menggelontorkan uang yang cukup besar, sampai memengaruhi cashflow bulanan.
“Jadi, kalau sampai kita keluar uang untuk kesehatan, Itu impact-nya ke kita gede. Makanya, (penting) punya asuransi untuk keperluan ini. Baik itu asuransi punya negara atau swasta, terserah, tapi yang penting punya,” kata Melvin.
Persepsi Negatif Turut Pengaruhi Minat
Melvin menambahkan, alasan lain dari rendahnya minat pemakaian asuransi adalah karena mendengar pengalaman buruk asuransi dari orang lain. Padahal, pendengar ini bisa jadi belum merasakan langsung dampak dari asuransi, namun sudah terpengaruh oleh informasi tidak mengenakkan tersebut.
“Mungkin banyak orang punya pengalaman buruk. Misalnya bapaknya, kakeknya, tetangganya. Tapi, berita ini tidak di-clarify,” bebernya.
Baca juga: OJK Ungkap Tantangan Integrasi BPJS Kesehatan dan Asuransi Swasta
Sebagai penutup, Melvin menegaskan posisi asuransi sebagai salah satu pondasi keuangan bagi seseorang. Ia menganjurkan, untuk lebih mengutamakan investasi ke asuransi untuk menjaga diri, sebelum menyisihkan uang untuk masuk ke instrumen yang bisa menghasilkan return seperti pasar modal, obligasi, dan lainnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


