Poin Penting
- Menurut CORE pelemahan rupiah lebih dipicu faktor domestik (60-70 persen) dibandingkan faktor global (30-40 persen)
- Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia, sementara ringgit, baht, dan peso justru menguat.
- Hari ini, rupiah ditutup melemah 0,21 persen ke level Rp18.111 per dolar AS.
Jakarta – Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor domestik ketimbang global. Ini tercermin dari rupiah yang melemah paling dalam dibandingkan dengan negara di Asia lainnya.
Ekonom Core Indonesia Dipo Satria Ramli menjelaskan, faktor global hanya menyumbang sekitar 30-40 persen tekanan terhadap rupiah. Sementara, tekanan di domestik lebih mendominasi terhadap pelemahan rupiah atau menyumbang sebesar 60-70 persen.
“Menurut kami, mungkin lebih banyak fator domestik. Faktor global betul ada, perang Iran, shock, mungkin itu kita dimulai oleh faktor global, tetapi yang tetap menjadi masalah hari ini adalah si faktor domestik itu,” ujar Dipo dalam Core Mid Year Economic Review, dikutip, Kamis, 30 Juli 2026.
“Mungkin faktor global itu mungkin 30-40 persen, domestik mungkin 60-70 persen dari masalah, karena kalau kita lihat trennya, rupiah melemah paling dalam di Asia,” tambahnya.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Ekonom Prediksi Rupiah Masih Sulit Menguat
Dia melanjutkan, apabila tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh faktor global, maka seharusnya tren nilai tukar rupiah sama dengan negara-negara lainnya. Misalnya, ringgit Malaysia, bhat Thailand, dan peso Filipina yang justru dalam tren menguat.
“Tapi kalau kita lihat negara tetangga, Malaysia ringgit sudah menguat, Thailand baht sudah menguat, Philippine peso juga menguat, malah hanya rupiah saja yang melemah. Artinya tren kita sangat berbeda dengan negara-negara lain,” ungkapnya.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Masih Tertekan di Atas Rp18.000 per Dolar AS
Sementara nilai tukar rupiah pada penutu[an perdagangan hari ini, Kamis (30/7/2026) berada di level Rp18.111 per dolar AS atau mengalami pelemahan sebesar 0,21 persen dibandingkan pembukaan perdagangan. (*)
Editor: Galih Pratama


