Poin Penting
- Kenaikan BI Rate dan pelemahan rupiah berpotensi menekan daya beli masyarakat serta permintaan kendaraan bermotor.
- Asuransi Astra menyebut dampak pelemahan rupiah masih terbatas karena mayoritas bisnis berbasis rupiah dan pasar domestik.
- Perseroan tetap optimistis mencatat pertumbuhan pada 2026 melalui strategi diversifikasi bisnis.
Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi menekan industri asuransi, terutama terhadap daya beli masyarakat dan sektor otomotif.
Presiden Direktur PT Asuransi Astra Buana, Maximiliaan Agatisianus, mengatakan kenaikan suku bunga tersebut berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi menurunkan permintaan terhadap kendaraan bermotor, khususnya yang dibeli melalui fasilitas kredit.
“Penurunan daya beli sudah terjadi dan salah satunya akan berdampak terhadap demand kendaraan bermotor, terutama pembelian secara kredit. Artinya berdampak terhadap industri asuransi kendaraan bermotor,” di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Baca juga: Strategi Baru Astra Life Perluas Proteksi Tanpa Bebani Nasabah
Meski demikian, dirinya menegaskan bahwa pelemahan rupiah belum memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap kinerja Asuransi Astra.
Hal itu lantaran sebagian besar portofolio bisnis perseroan berorientasi pada pasar domestik serta menggunakan mata uang rupiah.
Selain itu, perusahaan juga menerapkan strategi manajemen risiko yang prudent melalui mekanisme natural hedging.
“Portofolio kami berbasis US Dollar tidak terlalu banyak sehingga kami melakukan natural hedging dengan baik secara prudent sehingga dampaknya secara langsung tidak terlalu terasa untuk pelemahan itu,” jelasnya.
Menurutnya, eksposur valuta asing secara umum berasal dari sejumlah nasabah yang bergerak di sektor ekspor-impor serta bisnis tertentu yang masih mengandalkan transaksi berbasis mata uang asing.
Tetap Optimistis Tumbuh pada 2026
Lebih lanjut, di tengah tekanan ekonomi global dan domestik, pihaknya optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun.
Rasa optimisme tersebut disokong oleh strategi diversifikasi bisnis yang selama ini diterapkan perusahaan untuk menjaga ketahanan usaha di tengah perubahan siklus ekonomi.
“Kami selalu melakukan diversifikasi bisnis agar resilient ke depan. Tentunya kami tetap mengharapkan pertumbuhan,” bebernya.
Diakuinya, bisnis asuransi kendaraan bermotor masih menghadapi tekanan seiring belum pulihnya penjualan mobil nasional dalam tiga tahun terakhir.
Baca juga: Biaya Penyakit Kritis Makin Mahal, Astra Life Luncurkan Proteksi Plus Refund Premi
Penjualan kendaraan roda empat masih berada di bawah level normal yang biasanya mencapai sekitar satu juta unit per tahun.
Namun, di sisi lain, lini bisnis asuransi komersial dan asuransi kesehatan dinilai memiliki prospek yang lebih positif.
“Asuransi komersial kami masih berpotensi tumbuh sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap layanan kesehatan juga terus meningkat, sehingga memberikan peluang bagi bisnis employee benefit dan asuransi kesehatan,” ungkapnya.
Menurutnya, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan, kinerjanya masih relatif lebih baik dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi global. (*)
Editor: Yulian Saputra


