Poin Penting
- Rupiah menguat 0,71 persen ke Rp17.860 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), setelah sebelumnya sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS
- Penguatan rupiah ditopang meredanya ketegangan geopolitik global, terutama meningkatnya harapan perdamaian AS-Iran yang mendorong kembali minat investor ke pasar negara berkembang
- Kebijakan BI Rate 5,50 persen, derasnya aliran modal asing ke SRBI dan SBN, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap positif menjadi faktor utama penopang penguatan rupiah.
Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini Jumat (12/6/2026). Rupiah berada di level Rp17.860 per dolar AS, menguat tajam 128 poin atau 0,71 persen dari pembukaan perdagangan, setelah sempat tertekan hebat hingga mendekati level psikologis Rp18.000.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, apresiasi mata uang Garuda di akhir pekan ini didorong oleh kombinasi meredanya tensi geopolitik global serta respons positif pasar terhadap bauran kebijakan domestik.
Dari sisi global, kata Sutopo, sinyal damai antara AS-Iran dan isu jalur energi membuat sentimen positif. Pasar merespons positif pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan adanya kemajuan dalam diskusi bersama Iran, dengan peluang tercapainya kesepakatan damai di Eropa akhir pekan ini.
Baca juga: Jaga Nilai Rupiah, Dasco Ajak Masyarakat Tukarkan Dolar AS
“Sentimen ini langsung meredakan kecemasan global terkait konflik Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi di Selat Hormuz,” ujar Sutopo saat dihubungi Infobanknews, Jumat, 12 Juni 2026.
Kemudian, lanjut Sutopo, harapan akan resolusi damai tersebut memicu kembalinya minat risiko (risk-on sentiment). Pelaku pasar mulai mengurangi kepemilikan aset aman pada dolar AS dan kembali mengalihkan modalnya ke pasar negara berkembang (emerging markets), sehingga indeks dolar AS melemah secara luas.
Sementara dari domestik, menurut Sutopo, langkah agresif Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate ke level 5,50 persen, terbukti ampuh menjaga daya tarik imbal hasil (yield) aset keuangan domestik di mata investor global.
Terjadi aliran masuk modal asing yang cukup signifikan, terutama pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pasca-lelang pertengahan minggu, serta aksi beli selektif pada Surat Berharga Negara (SBN).
“Likuiditas valas yang masuk dari intervensi dan investasi ini menjadi penopang utama penguatan rupiah di pasar spot,” tambahnya.
Baca juga: Skenario Terburuk Rupiah Rp20.000 per Dolar AS, Ekonom Ingatkan Risiko Kontraksi Ekonomi
Selain itu, lanjut Sutopo, kepercayaan investor juga diperkuat oleh laporan Bank Dunia (World Bank) yang merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen untuk tahun 2026.
“Hal ini memberikan sinyal kuat bahwa fundamental ekonomi dalam negeri tetap kokoh,” pungkasnya.
Sutopo menambahkan, meskipun penguatan rupiah hari ini sempat tertahan oleh rilis data penjualan ritel bulan April 2026 yang melemah akibat dampak kenaikan harga BBM non-subsidi.
“Namun kombinasi antara intervensi BI, tingginya daya tarik instrumen rupiah, dan meredanya geopolitik sukses membawa rupiah memutus tren pelemahan sebelas pekan beruntun,” tutup Sutopo. (*)
Editor: Galih Pratama


