Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat ke level 6.043,55 atau menguat 2,68 persen dari posisi 5.886,03, pada perdagangan sesi I, Jumat (12/6).
Penguatan indeks sendiri ditopang oleh kenaikan mayoritas sektor saham, termasuk saham-saham badan usaha milik negara (BUMN), perbankan, dan pertambangan.
Sejak sesi pembukaan, saham-saham BUMN mencatatkan volume akumulasi beli yang masif dari investor domestik maupun asing.
Saham BUMN di sektor pertambangan misalnya, naik hingga di kisaran 7 persen. Kepercayaan pasar terhadap ketahanan dan profitabilitas BUMN menjadi katalis utama yang berhasil membalikkan arah IHSG ke zona hijau dan memberikan energi positif bagi pasar modal Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, COO Danantara yang juga kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyambut positif penguatan pasar saham tersebut. Menurutnya, kenaikan IHSG mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia, termasuk terhadap emiten-emiten BUMN.
Baca juga: IHSG Sesi I Lanjut Ditutup Menguat, Kembali Tembus Level 6.000
“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi kinerja positif IHSG yang hari ini berhasil kembali menembus level 6.000. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelaku pasar dan investor yang terus menaruh kepercayaan tinggi pada pasar modal Indonesia, dan secara khusus pada saham-saham BUMN,” ujar Dony, dalam keterangannya, Jumat, 12 Juni 2026.
Menurutnya, dominasi saham BUMN dalam mendorong laju IHSG bukanlah sebuah kebetulan. Dirinya bersyukur hasil dari transformasi serta penguatan fundamental bisnis yang terus berjalan di tubuh perusahaan-perusahaan negara direspons positif oleh pasar.
“Momentum positif ini menandakan bahwa kebijakan yang sedang dijalankan berada di jalur yang tepat. Iklim investasi yang stabil adalah kunci menarik kemitraan strategis bernilai tinggi,” ungkapnya.
Penguatan IHSG Didukung Sentimen Positif
Diketahui, kenaikan IHSG terjadi setelah pasar saham domestik mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir.
Baca juga: IHSG Dibuka Menguat 1,28 Persen, Dekati Level 6.000
Pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah taktis dengan menyesuaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen, sebuah keputusan krusial yang langsung memulihkan kepercayaan pasar.
Dony mengatakan momentum penguatan tersebut perlu dijaga agar dapat mendorong stabilitas pasar keuangan dan meningkatkan minat investasi.
“Momentum positif ini menandakan bahwa kebijakan yang sedang dijalankan berada di jalur yang tepat. Iklim investasi yang stabil merupakan kunci untuk menarik kemitraan strategis dan investasi jangka panjang,” ujarnya.
Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, sebelumnya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia, khususnya sektor perbankan, masih berada dalam kondisi yang kuat.
Menurut dia, pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tantangan ekonomi global.
Prasetyo juga mengapresiasi koordinasi yang dilakukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor perbankan, BUMN, dan lembaga investasi negara dalam menjaga kepercayaan pasar.
“Kami berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk jajaran di Himbara, Taspen, BPJS, dan INA yang terus berkoordinasi. Kita akan terus bekerja keras mengatasi tantangan ekonomi demi menciptakan kondisi yang stabil sebagaimana harapan kita bersama,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


