Poin Penting
- Rupiah mulai menguat ke kisaran Rp17.500 per dolar AS setelah sempat menembus Rp18.200
- Aliran dana asing kembali masuk, didorong meningkatnya minat terhadap SRBI dan tren FDI yang menguat
- DBS proyeksikan rupiah stabil di kisaran Rp17.600-Rp18.000 pada 2026 dan BI dinilai tak perlu kembali menaikkan BI Rate.
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan penguatan setelah sempat tertekan hingga menembus level Rp18.200 per dolar AS pada pertengahan tahun ini. Rupiah kini bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS.
Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari kembali masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik. Salah satunya terlihat dari meningkatnya minat investor asing terhadap instrumen surat utang.
“Apa yang membantu rupiah ialah aliran dana investasi yang telah pulih. Maksud saya, aliran dana asing ke pasar utang Indonesia telah kembali. SRBI menarik minat banyak investor asing, share mereka naik secara signifikan,” ujar Radhika saat ditemui seusai forum The Indonesia Equation: Risks, Returns, and the Road to 2027 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: Ekonom DBS Indonesia Menilai, RAPBN 2027 Beri Sinyal yang Baik ke Pasar
Selain aliran portofolio, menurut Radhika, foreign direct investment (FDI) juga menjadi faktor penting yang menopang stabilitas rupiah. Arus FDI disebut masih berada dalam tren penguatan dan bahkan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Hal-hal ini memberitahu kita jika aliran dana (asing) terus meningkat. Bahkan, sekalipun neraca perdagangan RI melemah, tapi outlook aliran dana asing tetap positif,” tegasnya.
Faktor lain yang turut menopang rupiah adalah pelemahan dolar AS secara global. Pergerakan dolar AS yang melemah terhadap mayoritas mata uang dunia memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
DBS Group Research memperkirakan rupiah pada 2026 akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp18.000 per dolar AS. Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap rupiah dinilai mulai mereda.
“Kita proyeksikan rupiah akan terstabilisasi di rentang Rp17.600 sampai Rp18.000. Jadi, fokus proyeksi kita memang sudah berada di rentang tersebut selama beberapa tahun terakhir,” ungkap Radhika.
Baca juga: DBS Ungkap Sinyal di Balik Target Defisit APBN 2027
Sejalan dengan prospek rupiah yang lebih stabil, DBS menilai Bank Indonesia (BI) tidak memiliki urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate.
Kebijakan pengetatan sebelumnya dinilai telah menjadi langkah preemptive untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar.
“Jadi, kita tak melihat kebutuhan BI untuk mengetatkan kembali BI Rate, karena mereka sudah melakukan itu. Tapi, kita juga melihat bank sentral negara lain yang mulai melakukan pengetatan kebijakan. Jadi, dari perspektif itu, BI telah melakukan preemptive,” pungkasnya. (*) Steven Widjaja


