Poin Penting
- DBS menaikkan proyeksi ekonomi Indonesia menjadi 5,3 persen pada 2026 dan 5,2%-5,3% pada 2027, setelah pertumbuhan semester I di atas ekspektasi.
- Daya beli dan belanja pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi RI pada paruh pertama 2026
- Harga minyak global menjadi risiko utama karena dapat meningkatkan biaya impor energi dan menekan pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2026.
Jakarta – Ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan pada paruh pertama 2026. Ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I 2026 dan 5,29 persen pada kuartal II 2026.
Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen secara tahunan. Capaian tersebut menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao, menilai kinerja ekonomi Indonesia tersebut cukup mengejutkan karena berada di atas ekspektasi sebelumnya.
“Saya akan berkata jika pertumbuhan (ekonomi RI) mengejutkan. Maksudnya, pertumbuhannya lebih kuat daripada yang diduga sebelumnya,” ucap Radhika saat ditemui di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Baca juga: Ekonom DBS Indonesia Menilai, RAPBN 2027 Beri Sinyal yang Baik ke Pasar
Menurut Radhika, terdapat sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada paruh pertama 2026. Salah satunya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global yang tidak sepenuhnya diteruskan ke harga ritel atau publik.
Kondisi tersebut membantu menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, implementasi berbagai kebijakan stimulus pemerintah kepada rumah tangga turut menopang konsumsi domestik.
Faktor lainnya adalah belanja pemerintah yang dilakukan secara masif atau front loaded pada paruh pertama 2026.
“5 sampai 6 bulan pertama anda melihat nilai belanja (pemerintah) yang double digit. Itu terjadi, yang biasanya tak pernah terjadi sebelumnya,” tekan Radhika.
Menurutnya, berbagai kebijakan tersebut menjadi penyeimbang terhadap risiko kenaikan harga minyak dunia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, DBS Group Research kemudian menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Proyeksi Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen
DBS kini memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3 persen pada 2026 dan berada di kisaran 5,2-5,3 persen pada 2027.
“Proyeksi kita di level 5,3 persen saat ini. Sebelumnya, proyeksi kita lebih rendah. Jadi, 5,3 persen untuk 2026. Dan, untuk 2027, saya juga mempertahankan proyeksi saya di level 5,2 atau 5,3 persen. Penguatan didorong oleh faktor serupa,” sebutnya.
Radhika menjelaskan, ketidakpastian harga minyak dunia masih menjadi salah satu risiko yang sulit diproyeksikan. Namun, dari sisi domestik, kebijakan pemerintah dinilai masih menjadi faktor penting yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Itulah kenapa kita melandaskan proyeksi kita pada faktor permintaan domestik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke 5,2 atau 5,3 persen di 2027,” bebernya.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada 2026 juga dinilai masih realistis. Hal tersebut ditopang sejumlah faktor, termasuk momentum Hari Raya Lebaran serta belanja pemerintah yang lebih agresif pada paruh pertama tahun ini.
Baca juga: Efek Domino Pengalihan Payroll ASN dari BPD: Hentikan Proses “Pengeringan” Ekonomi Daerah
Namun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan menghadapi sejumlah tantangan pada paruh kedua 2026. Upaya menjaga defisit fiskal dapat membuat laju belanja pemerintah lebih moderat. Di sisi lain, perkembangan neraca perdagangan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
“Kareka saat kita bicara harga minyak global naik, ini sudah di luar kendali pemerintah. Yang mana, dalam waktu dekat, impor energi akan meningkat lebih tinggi. Jadi, supply energi menjadi sangat penting untuk energy security, tapi biaya akan menjadi mahal,” pungkas Radhika. (*) Steven Widjaja


