Poin Penting:
- Rosan melaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa komitmen investasi Jepang dan Korea Selatan mencapai sekitar Rp570 triliun.
- Realisasi investasi kuartal I 2026 mencapai Rp498,79 triliun, melampaui target dan menyerap 706.569 tenaga kerja.
- Komposisi PMDN dan PMA hampir seimbang, dengan persebaran investasi relatif merata antara Jawa dan luar Jawa.
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menerima laporan terbaru dari Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengenai komitmen investasi dari Jepang dan Korea Selatan yang nilainya mencapai sekitar Rp570 triliun. Informasi itu disampaikan Rosan saat menemui Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membenarkan laporan tersebut. “Presiden juga menerima laporan mengenai perkembangan komitmen investasi dari Jepang dan Korea Selatan yang mencapai sekitar Rp570 triliun,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Bukan Soal Investasi Keamanan Siber, Ini Penyebab Data Nasabah Masih Rawan Dibobol
Selain perkembangan kerja sama bilateral, Rosan turut memaparkan realisasi investasi 2025 serta proyeksi 2026 yang dinilai menunjukkan tren positif di berbagai sektor strategis, sejalan dengan prioritas pemerintah mempercepat hilirisasi dan menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Dorongan Realisasi dan Tren Positif Komitmen Investasi
Dalam pertemuan itu, pemerintah kembali menegaskan fokus mempercepat realisasi investasi untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah melalui program hilirisasi. Rosan yang juga CEO Danantara menyampaikan bahwa realisasi investasi pada kuartal I 2026 telah mencapai Rp498,79 triliun, sedikit di atas target Rp497 triliun.
“Itu adalah peningkatan 7,22 persen year-on-year dan itu juga, penyerapan terhadap tenaga kerja Indonesia-nya mencapai 706.569 atau 18,93 persen untuk year-on-year-nya,” kata Rosan kepada wartawan setelah bertemu Presiden, dilansir Antara.
Ia menambahkan, komposisi antara penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) relatif seimbang. “Penanaman modal dalam negerinya itu kurang lebih 49,89 persen atau hampir 50 persen, sama dengan penanaman modal asingnya. Kalau asingnya itu, Rp249,94 triliun, dan komposisinya itu, (di) luar Jawa kurang lebih 50,37 persen, dan (di) Jawa itu 49,63 persen atau Rp247,53 triliun,ˮ ujar Rosan.
Distribusi asal Modal dan Sektor Strategis
Rosan merinci lima negara dengan investasi terbesar, yakni Singapura (4,6 miliar dolar AS), Hong Kong (2,7 miliar dolar AS), China (2,2 miliar dolar AS), Amerika Serikat (1,7 miliar dolar AS), dan Jepang (1 miliar dolar AS).
Sementara itu, sektor yang paling banyak menyerap modal mencakup industri logam dasar dan barang logam, jasa lainnya, pertambangan, perumahan, kawasan industri, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.
Baca juga: Dear Investor Pemula, Ini 6 Aplikasi Investasi Saham Terdaftar OJK
Prospek Lanjutan dan Penguatan Hilirisasi
Laporan Rosan mengenai komitmen investasi Jepang dan Korea Selatan senilai Rp570 triliun menjadi sorotan utama karena mempertegas prospek penanaman modal asing ke Indonesia pada 2026. Pemerintah menilai kolaborasi dengan negara mitra semakin memperkuat hilirisasi dan mendiversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan realisasi investasi yang terus tumbuh serta persebaran investasi yang kian merata antara Jawa dan luar Jawa, pemerintah optimistis target pertumbuhan investasi tahun depan akan tercapai.
Komitmen investasi yang disampaikan Rosan kepada Presiden Prabowo menegaskan arah kebijakan pemerintah yang konsisten terhadap percepatan hilirisasi dan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. (*)
Editor: Yulian Saputra








