Poin Penting
- Kredit Bank SulutGo tumbuh 3,82 persen menjadi Rp16,59 triliun pada semester I 2026.
- NPL gross naik menjadi 3,92 persen dan mendorong lonjakan beban impairment hingga lebih dari 3.000 persen.
- Laba bersih Bank SulutGo turun 6,31 persen menjadi Rp168,08 miliar, sementara LDR melonjak ke 108,02 persen.
Jakarta – Kinerja bisnis PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (Bank SulutGo/BSG) tetap tumbuh pada paruh pertama 20126. Kredit meningkat secara konservatif dan margin bunga membaik. Namun, kenaikan risiko kredit dan tekanan likuiditas membuat laba bersih bank terkoreksi.
Mengacu laporan keuangan publikasi Bank SulutGo, penyaluran kredit pada semester I 2026 mencapai Rp16,59 triliun, tumbuh 3,82 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Rp15,98 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, penghimpunan dana masyarakat (DPK) justru mengalami kontraksi cukup dalam. Total DPK tercatat sebesar Rp15,33 triliun, atau menyusut 10,40 persen secara tahunan.
Baca juga: Mantap! Laba Bersih Bank SulutGo Semester-I 2025 Meroket 48,52 Persen Jadi Rp179,39 Miliar
Kontraksi DPK terutama dipicu oleh penurunan deposito sebesar 14,69 persen menjadi Rp10,34 triliun. Giro juga turun 13,56 persen menjadi Rp2,04 triliun. Sementara itu, tabungan tercatat mengalami kenaikan 12,17 persen atau menjadi Rp2,95 triliun.
Laju pertumbuhan kredit yang tidak diimbangi peningkatan DPK turut menekan likuiditas Bank SulutGo. Rasio loan to deposit ratio (LDR) bank yang dinakhodai Revino M. Pepah sebagai direktur utama melonjak dari 94,64 persen menjadi 108,02 persen.
Kondisi tersebut merefleksikan ekspansi kredit yang melampaui penghimpunan DPK, sehingga membuat pengelolaan likuiditas semakin menantang.
Baca juga: Beban Bunga Melonjak, Laba Bank SulutGo Turun 10,35 Persen di 2024
Ekspansi kredit juga dibarengi dengan kualitas aset yang menurun. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross bank ini tercatat naik ke level 3,92 persen. Kenaikan risiko kredit ini mendorong BSG memupuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang lebih besar.
Ha itu tecermin dari lonjakan beban impairment dari Rp1,99 miliar menjadi Rp65,60 miliar, atau meroket lebih dari 3.000 persen secara tahunan. Pos beban ini menjadi tekan terbesar bagi profitabilitas BSG sepanjang semester I 2026.
Padahal, dari sisi intermediasi, kinerja operasional Bank SulutGo masih menunjukkan peningkatan. Meski pendapatan bunga terkoreksi 2,54 persen, dari Rp1,18 triliun menjadi Rp1,15 triliun, tapi pendapatan bunga turun lebih dalam, yakni minus 12,85 persen atau menjadi Rp448,79 miliar.
Alhasil, pendapatan bunga bersih bank ini masih tumbuh 6,30 persen, dari Rp661,42 miliar menjadi Rp703,10 miliar.
Baca juga: Sukses Pimpin Bank SulutGo, Revino M. Pepah Dianugerahi Penghargaan Top 100 CEO 2024
Operasional bank juga sejatinya tetap efisien. Pos beban tenaga kerja misalnya, bisa ditekan turun 5,70 persen menjadi Rp307,12 miliar.
Namun, efisiensi itu memang belum mampu mengimbangi lonjakan biaya peningkatan pencadangan untuk memitigasi risiko ke depan.
Imbasnya, laba operasional BSG pun terkoreksi 3,60 persen, atau menjadi Rp225,63 miliar.
Bank ini pun menutup paruh pertama 2026 dengan perolehan laba bersih Rp168,08 miliar, atau merosot 6,31 persen dibandingkan Rp179,40 miliar pada periode sama tahun lalu.
Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) juga menurun dari 18,80 persen menjadi 16,18 persen.
Sementara itu, dari sisi total aset tercatat masih tumbuh tipis 0,45 persen, atau menjadi Rp2218 triliun. (*) Ari Astriawan


