Poin Penting
- Indonesia menghadapi empat tantangan utama dalam membangun PFII, yakni stabilitas mata uang, kepastian hukum, ekosistem keuangan, dan stabilitas ekonomi.
- Ekosistem keuangan Indonesia dinilai masih tertinggal karena jumlah bank internasional jauh lebih sedikit dibanding pusat keuangan global.
- Bali menjadi modal penting karena memiliki citra internasional yang positif, tetapi keberhasilan PFII bergantung pada penguatan fondasi ekonomi dan kelembagaan.
Jakarta – Rencana pemerintah membentuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di Bali dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing sektor keuangan nasional.
Namun, di balik ambisi tersebut, Indonesia masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR) agar mampu bersaing dengan pusat keuangan dunia seperti Singapura, Hong Kong, London, dan Dubai.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengatakan Indonesia perlu realistis dalam membangun PFII. Pasalnya, sejumlah indikator Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara yang telah lebih dahulu berkembang sebagai financial center.
“Saat kita membandingkan secara neck to neck Indonesia dengan beberapa financial center di dunia, kita jadi paham bahwa kita masih mempunyai banyak PR. Sehingga ketika kita mempunyai ambisi, ambisi itu harus realistis,” katanya dalam acara diskusi publik yang diselenggarakan Universitas Paramadina secara daring, Kamis, 23 Juli 2026.
Baca juga: Mengenal PFII, Ambisi Indonesia Jadi Pusat Keuangan Dunia
Menurutnya, terdapat empat faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah pusat keuangan internasional, yakni stabilitas mata uang, kepastian hukum, ekosistem keuangan, dan stabilitas ekonomi.
Stabilitas Rupiah Jadi Tantangan
Dari sisi stabilitas mata uang, Wijayanto menilai rupiah masih menjadi tantangan karena volatilitasnya relatif tinggi dibanding mata uang negara pesaing.
“Rupiah merupakan mata uang yang sangat volatil, nilainya terus-menerus mengalami depresiasi, berbeda dengan saingan kita,” tuturnya.
Ia menambahkan, negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, Uni Emirat Arab, hingga Qatar memiliki mata uang yang relatif lebih stabil sehingga memberikan kepastian lebih besar bagi investor global.
Selain itu, kepastian hukum juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Menurut Wijayanto, investor internasional membutuhkan jaminan bahwa regulasi dan penegakan hukum berjalan konsisten karena investasi yang ditempatkan umumnya bersifat jangka panjang.
“Kepastian hukum merupakan sesuatu yang sangat penting, sama dengan nilai tukar mata uang, karena investor akan menempatkan uangnya dalam waktu yang cukup lama,” ujarnya.
Baca juga: INDEF: PFII Jangan Sampai Jadi Pusat Pencucian Uang
Ia menilai kualitas kepastian hukum Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing. Hal tersebut tecermin dari skor Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia yang masih berada di bawah Singapura, Hong Kong, Inggris, maupun Uni Emirat Arab.
Ekosistem Keuangan Masih Terbatas
Tantangan berikutnya adalah ekosistem keuangan. Menurut Wijayanto, Indonesia masih kekurangan institusi keuangan global yang menjadi tulang punggung aktivitas sebuah financial center.
“Di Indonesia hanya ada sembilan international bank. Bahkan beberapa akan mulai menarik diri,” ungkapnya.
Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan London yang memiliki sekitar 190 bank internasional, Hong Kong sekitar 180 bank, dan Singapura sekitar 145 bank.
Baca juga: Bank Asing, Delisting, dan Rencana “Jahat” jadi Perusahaan Tertutup
Meski demikian, Indonesia dinilai tetap memiliki modal untuk mengembangkan PFII. Salah satunya adalah citra positif Bali yang telah dikenal luas sebagai destinasi internasional.
“Barangkali kita beruntung karena memilih Bali. Sehingga minimal dari sisi international image, Bali mempunyai persepsi yang positif di dunia,” terang Wijayanto.
Meski memiliki sejumlah keunggulan, ia menegaskan bahwa keberhasilan PFII pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia memperbaiki fondasi ekonomi dan kelembagaan, bukan hanya membangun kawasan baru.
“Kita harus realistis dalam mencanangkan goal kita,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri


