Oleh Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi dan Ketua Badan Pertimbangan Fakultas (BPF) FISIP Universitas Airlangga
MAKIN ke sini, hidup terasa makin susah. Masyarakat tidak lagi leluasa membelanjakan penghasilannya. Bahkan ada indikasi tabungan masyarakat pelan-pelan tergerogoti oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan hidup sehari-hari.
Dengan jumlah uang yang sama, masyarakat kini hanya mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari yang makin sedikit. Bahkan tidak sedikit yang hidupnya hanya mengandalkan pada tabungan yang tersisa, hasil menggadaikan atau menjual barang miliknya atau hidup dari utang karena menjadi korban PHK.
Untuk membeli beras, bawang merah, dan bawang putih saja yang notabene merupakan kebutuhan sehari-hari untuk makan, masyarakat kini harus merogoh kocek lebih dalam. Di pasar, harga komoditas yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat itu terus merayap naik.
Tidak hanya masyarakat kelas bawah dan masyarakat miskin, saat ini kelas menengah pun tidak sedikit yang kelimpungan karena harus menghadapi kenaikan harga barang yang tidak sebanding dengan kenaikan penghasilan setiap bulannya.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, tingkat inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 naik menjadi 3,34% (yearon year/yoy) dengan inflasi bulanan sebesar 0,44%. Tingkat inflasi tahunan tercatat naik tiga bulan beruntun, dari 2,42% di April 2026.
Tren kenaikan angka inflasi ini utamanya dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang memperkuat imported inflation, kenaikan harga BBM nonsubsidi, serta lonjakan biaya pada kelompok transportasi dan makanan.
Faktor Penyebab
Bank Indonesia (BI) sebetulnya menargetkan inflasi akan tetap terkendali di kisaran target 2,5% ± 1%. Namun, di lapangan inflasi diprediksi akan berlanjut sepanjang semester II-2026. Bahkan, bukan tidak mungkin inflasi akan tetap menjadi masalah, mengingat konflik Timur Tengah tak kunjung tertangani dan di pasar kenaikan harga barang terus terjadi.
Inflasi selama ini adalah musuh tak kasatmata bagi perekonomian. Kenaikan harga secara umum dan terus-menerus ini cepat atau lambat akan menggerus daya beli masyarakat.
Secara umum, inflasi sebetulnya tidak terjadi begitu saja. Ada berbagai faktor pemicu yang sering kali bekerja secara bersamaan. Berikut adalah faktor-faktor utama penyebab terjadinya inflasi.
Pertama, ketika terjadi peningkatan permintaan. Inflasi jenis ini terjadi ketika permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa meningkat sangat tajam, namun di saat yang sama tidak diimbangi dengan peningkatan ketersediaan pasokan.
Di Indonesia, terjadinya inflasi sering kali berbarengan atau menjelang hari besar keagamaan nasional, seperti periode Ramadan dan Lebaran, serta momen tahun baru.
Ketika hasrat belanja masyarakat naik apalagi melonjak tinggi secara tiba-tiba, maka di pasaran kelangkaan barang terjadi.Secara hukum pasar, hal ini niscaya akan mendongkrak kenaikan harga karena para pengusaha ingin mendapatkan keuntungan lebih.
Kedua, inflasi terjadi akibat ketergantungan terhadap bahan baku impor dan masalah distribusi. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih memiliki ketergantungan impor yang cukup besar untuk beberapa komoditas penting, mulai dari bahan baku industri hingga pangan.
Ketika harga komoditas global bergejolak akibat krisis geopolitik atau melemahnya nilai tukar rupiah, maka dampaknya akan langsung terasa di pasar domestik. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi ketika harga bahan baku naik? Produsen bisa dipastikan akan ikut menaikkan harga jual produk yang dihasilkan, sehingga ujung-ujungnya harga barang dan jasa di pasaran pun ikut terkerek.
Selain itu, masalah domestik, seperti cuaca ekstrem atau bencana alam dapat pula mengganggu jalur distribusi, yang berujung pada terjadinya lonjakan harga bahan pangan, seperti beras, bawang merah, dan cabai.
Ketiga, terjadinya kenaikan biaya produksi (cost-push inflation). Di berbagai daerah, ketika terjadi kenaikan harga bahan baku, gangguan pada jalur rantai pasok, hingga lonjakan biaya transportasi niscaya akan membuat biaya produksi membengkak. Sebagai contoh, penyesuaian harga BBM nonsubsidi di Indonesia bisa dipastikan akan memicu efek domino, karena biaya distribusi barang menjadi lebih mahal.
Produsen yang tidak ingin merugi sering kali kemudian membebankan biaya tambahan ini kepada konsumen akhir dengan menaikkan harga jual produk. Pada titik ketika kenaikan harga bergagai komoditas di pasaran tidak lagi terkejar, maka jangan heran jika kemudian terjadi inflasi.
Keempat, inflasi juga terjadi karena didorong proses pelemahan nilai tukar rupiah. Pengalaman telah banyak membuktikan bahwa depresiasi rupiah membuat biaya atau harga bahan baku dan barang impor lebih mahal, sehingga memicu kenaikan harga pada barang konsumen secara keseluruhan.
Meski BI telah menaikkan suku bunga acuan dan pemerintah juga melakukan langkah-langkah penanganan untuk meredam memburuknya nilai tukar rupiah, tetapi hingga saat ini hasilnya masih belum maksimal. Penurunan nilai tukar rupiah membuat harga berbagai barang di pasar naik, karena berasal dari bahan baku impor yang makin mahal.
Resiliensi Masyarakat
Inflasi sesungguhnya adalah siklus ekonomi yang tidak bisa dihindari sepenuhnya, namun bisa dikelola dan diantisipasi. Dengan literasi keuangan yang baik dan kesadaran untuk mengelola aset sejak dini, masyarakat tidak hanya mampu bertahan dari tekanan kenaikan biaya hidup, tetapi juga menjadikan inflasi sebagai momentum untuk membangun fondasi keuangan yang lebih tangguh dan mandiri.
Kunci melawan inflasi, sebagian adalah pada resiliensi yang dibangun oleh masyarakat sendiri. Memang pemerintah dan BI memiliki tugas untuk memastikan agar inflasi tidak berkembang liar dan merugikan masyarakat. Namun, dengan hanya mengandalkan pada intervensi pemerintah dan BIhasilnya tidak akan maksimal.
Bagi masyarakat, inflasi yang tidak terkontrol ini akan berdampak sangat merugikan. Penurunan daya beli masyarakat pasti akan dirasakan seiring dengan terjadinya kenaikan harga barang dan jasa di pasaran.
Secara teoretis, kenaikan harga barang dan jasa akan menurunkan nilai riil uang yang kita miliki. Bagi masyarakat berpenghasilan tetap, inflasi yang tinggi berarti penurunan kesejahteraan karena jumlah barang yang mampu dibeli makin sedikit.
Satu hal yang perlu dicermati dari dampak inflasi adalah terciptanya kesenjangan sosial baru. Masyarakat dengan pendapatan fleksibel atau pemilik aset bisnis mungkin dapat menyesuaikan harga jual mereka dan selamat. Sebaliknya, kelompok rentan dan pekerja berupah minimum tentunya akan sangat terbebani oleh lonjakan biaya hidup.
Menghadapi inflasi, mau tidak mau membutuhkan sinergi yang kuat antara otoritas pembuat kebijakan dan langkah proaktif dari masyarakat. Masyarakat memang tidak bisa mengontrol inflasi global maupun kebijakan moneter, tetapi mereka dapat mengelola keuangan pribadi untuk meminimalkan dampaknya.
Mengalokasikan tabungan untuk investasi yang tepat dan mengelola penghasilan yang bijak niscaya akan sangat membantu keluarga untuk bertahan di tengah fluktuasi harga kebutuhan. Hanya dengan cara ini, dampak inflasi akan dapat sedikit diredam. (*)


