Poin Penting
- S&P mempertahankan rating Indonesia di BBB outlook Stable, tetapi Henan menilai tekanan fiskal dan rupiah masih menjadi risiko
- IHSG menguat ke 6.037,84 usai pengumuman S&P, namun belum didukung kembalinya modal asing.
- Stabilitas rupiah, disiplin fiskal, serta evaluasi FTSE dan MSCI akan menentukan arah pasar hingga akhir 2026.
Jakarta – Di tengah berbagai tekanan yang terjadi sepanjang semester I 2026, keputusan S&P Global Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB dengan outlook Stable menjadi angin segar. Tapi, sinyal positif itu belum mencerminkan semua risiko pasar keuangan domestik sudah berlalu.
Menurut Henan Putihrai Sekuritas (Henan Sekuritas) dan Henan Putihrai Asset Management (Henan Asset Management), keputusan S&P itu lebih mencerminkan keyakinan bahwa tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia masih bersifat sementara. Namun, bukan berarti fundamental ekonomi telah sepenuhnya pulih.
Henan Sekuritas dan Henan Asset Management memaparkan bahwa S&P masih mengakui Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari tekanan fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya beban bunga utang pemerintah hingga koreksi pasar keuangan yang cukup dalam di semester pertama 2026.
Di sisi lain, S&P masih melihat sejumlah faktor yang menopang fundamental ekonomi Indonesia, antara lain pertumbuhan ekonomi 5,6 persen pada kuartal I-2026, penerimaan negara yang naik 21 persen pada semester pertama, serta komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen PDB. Faktor-faktor inilah yang menjadi dasar dipertahankannya peringkat investasi Indonesia.
Baca juga: OJK Sebut Outlook Stabil S&P Jadi Bukti Fundamental Ekonomi RI Tetap Terjaga
Keputusan S&P pun langsung mendapat respons positif dari market. Pada hari pengumuman tersebut (13 Juli 2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 6.037,84. Ini sekaligus menjadi penutupan tertinggi sejak akhir Juni 2026.
Henan mengingatkan, keputusan S&P sebaiknya tidak diartikan bahwa tekanan terhadap perekonomian nasional sudah sepenuhnya mereda.
S&P sendiri menyebut paling tidak ada tiga faktor yang berpotensi memicu penurunan peringkat Indonesia, yakni kenaikan utang pemerintah secara berkelanjutan di atas 3 persen PDB per tahun, rasio pembayaran bunga utang yang bertahan di atas 15 persen terhadap penerimaan negara, serta melemahnya penerimaan ekspor yang berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal.
Keputusan S&P itu bisa dimaknai sebagai pemberian benefit of the doubt, bahwa kondisi saat ini masih bisa dipulihkan. Dengan catatan, pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal dan stabilitas ekonomi makro.
“Namun angin segar ini bukan berarti tekanan struktural sudah selesai, masih terdapat beberapa
sinyal yang akan datang dan patut diperhatikan. MSCI yang memberlakukan “probasi” hingga
November, S&P DJI yang menaruh pasar modal dalam watchlist, maupun FTSE Annual Review
yang akan datang pada Oktober, masih menjadi tenggat yang harus dilewati,” tulis Henan Sekuritas dan Henan Asset Management dalam laporannya, dikutip Rabu, 15 Juli 2026.
Di luar itu, Henan Sekuritas dan Henan Asset Management juga mengingatkan bahwa penilaian S&P Global Ratings dan penyedia indeks lainnya berbeda.
S&P Global Ratings menilai kemampuan dan kemauan pemerintah untuk mengelola kondisi fiskal dan moneter. Sedangkan MSCI, FTSE Russell, dan S&P DJI menilai aksesibilitas pasar modal.
Kajian itu juga menyebut bahwa kenaikan IHSG sekarang masih ditopang likuiditas domestik, bukan kembalinya modal asing. Hal itu tercermin pada 13 Juli 2026 saat IHSG melonjak, tapi di hari yang sama,
SBN dijual dan rupiah belum beranjak dari kisaran Rp 18.131.
Padahal pemulihan yang sehat biasanya dimulai dari rupiah yang stabil. Kemudian disusul arah BI Rate yang berbalik menuju pemangkasan, yang mendukung kembalinya modal asing ke SBN, dan terakhir ekuitas.
Baca juga: Outlook Stabil S&P Jadi Modal Indonesia Jaga Pertumbuhan Jangka Panjang
“Selama rupiah belum stabil dan arus asing belum benar-benar kembali, penguatan ini masih rentan kehilangan momentum. Kerentanan ini sejalan dengan pengingat dari S&P bahwa laju perubahan kebijakan dan ketidakpastian implementasi dapat memengaruhi kepercayaan investor serta membebani nilai tukar dan pasar keuangan,” lanjut Henan Sekuritas dan Henan Asset Management.
Sejumlah agenda penting akan menjadi penentu arah pasar keuangan Indonesia hingga akhir 2026, seperti FTSE Russell pada Oktober, penilaian MSCI pada November, serta perkembangan kebijakan moneter Bank Indonesia.
Keputusan S&P memang mengurangi satu ketidakpastian besar di pasar. Tapi arah pemulihan pasar keuangan Indonesia hingga akhir 2026 masih akan bergantung pada stabilitas rupiah, disiplin fiskal pemerintah, serta hasil evaluasi FTSE Russell dan MSCI dalam beberapa bulan mendatang. (*) Ari Astriawan


