Poin Penting
- Donald Trump membatalkan rencana tarif 20 persen bagi kapal yang melintasi Hormuz dan memilih skema investasi negara-negara Teluk ke Amerika Serikat.
- Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi disebut akan mengucurkan investasi besar sebagai pengganti kebijakan tarif lintas selat.
- Kesepakatan damai AS-Iran membuka kembali Hormuz, tetapi ketegangan militer masih membayangi stabilitas kawasan.
Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana penerapan tarif 20 persen bagi setiap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sebagai gantinya, sejumlah negara Teluk disebut akan menggelontorkan investasi bernilai besar ke Amerika Serikat.
Trump menilai skema investasi lebih menguntungkan dibanding memungut tarif dari kapal yang membawa kargo melalui jalur pelayaran strategis tersebut.
Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan di Kantor Oval Gedung Putih, Selasa (14/7). “Saya pikir hal itu justru lebih baik,” kata Trump, dikutip Antara.
Baca juga: Turki Perintahkan Benjamin Netanyahu Masuk Daftar Buronan Interpol
Investasi Gantikan Tarif Hormuz
Trump menjelaskan negara-negara di kawasan Teluk, seperti Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi, akan menanamkan modal dalam jumlah besar di Amerika Serikat.
Menurutnya, langkah itu menjadi pengganti rencana tarif atas kapal yang melintasi Hormuz.
Ia juga menilai Amerika Serikat selama ini menanggung beban menjaga jalur pelayaran tersebut tanpa memperoleh imbalan yang sepadan.
“Tidak adil kalau kami harus menjaga selat itu untuk seluruh dunia, untuk China dan yang lainnya. Saya tak mempermasalahkan harus melakukannya untuk China atau untuk yang lainnya, tetapi tak adil kalau kami tidak mendapat imbalan apapun,” ujar Trump.
Sebelumnya, pada Senin (13/7), Trump mengumumkan rencana memblokade lalu lintas maritim dari dan menuju pelabuhan Iran.
Ia juga menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 20 persen dari nilai kargo setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Kebijakan Trump Berubah Cepat
Pengumuman tarif itu sempat mengejutkan. Pasalnya, selama beberapa bulan terakhir pemerintahan Trump justru berupaya menjaga jalur pelayaran tersebut tetap terbuka dan mencegah Iran memungut biaya lintas kapal.
Aktivitas pelayaran di Hormuz juga belum sepenuhnya pulih setelah perang AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari. Kondisi itu masih memengaruhi arus perdagangan di kawasan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Selasa (14/7) menyatakan blokade terhadap Iran masih berlangsung. Serangan militer AS ke Iran juga disebut telah berlangsung selama empat hari berturut-turut.
Baca juga: AS Serang Iran Lagi, Ketegangan di Selat Hormuz Belum Reda
Kesepakatan Damai Masih Dibayangi Ketegangan
Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah menandatangani kesepakatan perdamaian awal pada pertengahan Juni.
Namun, aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan tersebut.
Perjanjian itu mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz serta perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
Meski demikian, situasi keamanan di kawasan masih menjadi perhatian karena konflik belum sepenuhnya mereda. (*)
Editor: Galih Pratama


