Poin Penting
- Pemerintah telah membeli SBN lebih dari Rp8 triliun sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan.
- Intervensi dinilai mulai berdampak dengan turunnya yield SBN tenor 10 tahun sekitar 4 bps dan tenor lima tahun sekitar 10 bps.
- SBN yang dibeli pemerintah bersifat sementara dan dapat dijual kembali ke pasar pada waktu yang tepat.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan nilai lebih dari Rp8 triliun hingga saat ini.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menahan tekanan di pasar keuangan melalui pembelian kembali surat utang pemerintah yang dilepas investor.
“Mungkin Rp8 triliun lebih (intervensi pemerintah di pasar SBN) yang di obligasi ya,” kata Purbaya saat ditemui di Kompleks DPR RI, Kamis, 4 Juni 2026.
Baca juga: Pemerintah Borong SBN, Purbaya Klaim Asing Mulai Masuk Lagi
Menurut Purbaya, intervensi yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil positif. Salah satunya tecermin dari pergerakan yield SBN tenor 10 tahun yang relatif stabil dan bahkan cenderung menurun.
“Terus (Yield SBN) 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. Jadi dampaknya ada,” ungkapnya.
Sebelumnya, Purbaya menyatakan, mulai Rabu (13/5/2026) pemerintah telah membeli surat utang dari pasar sekunder sekitar Rp100 miliar.
Baca juga: BI dan Kemenkeu Sepakat Debt Switching SBN Rp173,4 Triliun Tahun Ini
Kemudian, pada Senin (18/5/2026), pemerintah menyerap kembali obligasi dari pasar senilai Rp830 miliar dan pada Selasa (19/5/2026) senilai Rp1,29 triliun atau secara total senilai Rp2,22 triliiun.
Pemerintah bahkan menargetkan pembelian SBN di pasar sekunder dapat mencapai sekitar Rp2 triliun per hari.
Upaya Kembalikan Kepercayaan Investor
Purbaya menjelaskan pemerintah siap menyerap surat utang yang dilepas investor, baik investor domestik maupun asing. Menurutnya, langkah tersebut turut membantu menjaga harga obligasi dan menarik kembali minat investor ke pasar obligasi Indonesia.
“Ada yang jual kita beli, domestik atau asing kita beli. Ketika melihat itu kan kelihatan di pasar ada yang harga bond-nya emang baik. Asing ikut beli juga. Ini yang kita bilang mengembalikan investor ke pasar obligasi kita. Dia untungnya bisa double-double kalau dia masuk sekarang,” ungkapnya.
Baca juga: Menguji Optimisme Menteri Purbaya Soal Rupiah
Mantan Bos Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menyebut dampak dari intervensi ini mulai terlihat dengan Yield SBN tenor 10 tahun tercatat turun sekitar 4 basis poin, sementara yield tenor lima tahun turun sekitar 10 basis poin.
“Ini bukan anomali. Ini keberhasilan pemerintah mengembalikan kepercayaan ke bond market kita,” tambahnya.
Gunakan Berbagai Sumber Dana
Purbaya menegaskan pembelian SBN tidak hanya menggunakan dana yang berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), melainkan memanfaatkan berbagai sumber pendanaan yang tersedia secara optimal.
“Nggak, kita pakai semua sumber dana yang ada secara optimal gitu aja. Bukan hanya SAL,” ujarnya.
Baca juga: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Borong SBN Rp123 T hingga Guyur Insentif Likuiditas Rp427,9 T
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Suminto, menjelaskan SBN yang dibeli pemerintah tidak akan disimpan secara permanen.
Menurutnya, surat utang tersebut dapat dijual kembali ke pasar apabila kondisi sudah lebih kondusif.
“Jadi itu adalah pembelian sementara yang nanti bisa dijual kembali,” imbuh Suminto. (*)
Editor: Yulian Saputra


