Poin Penting
- Bank NTT mencetak laba bersih Rp81,20 miliar hingga Juni 2026, naik 31,94 persen (yoy), didukung efisiensi operasional
- Intermediasi tumbuh solid dengan kredit naik 8,35 persen menjadi Rp13,84 triliun dan DPK melonjak 14,97 persen menjadi Rp15,10 triliun, melampaui rata-rata industri perbankan nasional
- Fundamental tetap kuat, tercermin dari NPL Gross 3,49 persen, CAR 25,97 persen, dan total aset yang meningkat 7,30 persen menjadi Rp18,85 triliun hingga akhir Juni 2026.
Jakarta – Bank NTT membukukan laba bersih Rp81,20 miliar hingga Juni 2026, tumbuh 31,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp61,54 miliar.
Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Charlie Paulus, Bank NTT mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan keuntungan secara meyakinkan.
Mengutip laporan publikasi Bank NTT pada Jumat (24/7), kenaikan laba hadir di tengah pertumbuhan pendapatan bunga yang naik 2,71 persen menjadi Rp828,90 miliar. Tapi, di sisi lain, beban bunga meningkat lebih tinggi, yakni 22,64 persen menjadi Rp342,30 miliar. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya biaya penghimpunan dana atau cost of fund akibat persaingan likuiditas yang cukup ketat di industri perbankan.
Dampak kenaikan beban bunga membuat pendapatan bunga bersih atau net interest income Bank NTT turun 11,24 persen menjadi Rp468,60 miliar. Biar begitu, penurunan itu tak menghambat pertumbuhan laba bank ini. Hal ini menunjukkan bahwa Bank NTT mampu mengoptimalkan sumber pendapatan lain serta menjaga efisiensi pada sejumlah pos biaya operasional.

Salah satu penopang utama kenaikan laba terlihat dari keberhasilan Bank NTT menekan beban operasional lainnya sebesar 10,83 persen menjadi Rp380,54 miliar. Efisiensi ini berhasil mengimbangi tekanan pada pendapatan bunga bersih sehingga ruang keuntungan tetap terbuka. Langkah ini layak diapresiasi karena mencerminkan pengelolaan operasional yang semakin disiplin dan efektif.
Pada fungsi intermediasi, Bank NTT juga mencatatkan hasil yang menggembirakan. Penyaluran kredit tumbuh 8,35 persen menjadi Rp13,84 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) melonjak 14,97 persen menjadi Rp15,10 triliun.
Pertumbuhan DPK tersebut bahkan melampaui rata-rata industri perbankan nasional yang sebesar 8,1 persen pada Juni 2026 berdasarkan data OJK. Capaian ini menandakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Bank NTT terus meningkat.
Komposisi DPK menunjukkan pertumbuhan terbesar berasal dari deposito yang melonjak 39,56 persen menjadi Rp8,21 triliun, disusul tabungan yang naik 11,40 persen menjadi Rp4,15 triliun. Sementara itu, giro turun 22,35 persen menjadi Rp2,73 triliun.
Di sisi kualitas kredit, kondisi Bank NTT tetap terjaga dengan NPL Gross sebesar 3,49 persen dan NPL Net turun menjadi 0,73 persen, jauh di bawah batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga profil risiko kredit masih tergolong sehat.
Baca juga: Pertumbuhan DPK Perbankan Melambat 8,1 Persen di Juni 2026
Kinerja aset Bank NTT juga bergerak positif. Total aset meningkat 7,30 persen menjadi Rp18,85 triliun, sejalan dengan pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat. Walaupun modal inti turun 4,86 persen menjadi Rp2,42 triliun, rasio kecukupan modal (CAR) tetap berada di level kuat 25,97 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator sehingga kapasitas ekspansi bisnis masih sangat memadai.
Dari sisi rasio keuangan, loan to deposit ratio (LDR) berada di level 91,69 persen, masih berada dalam rentang ideal 78-92 persen. Kondisi itu menunjukkan likuiditas Bank NTT tetap terjaga dengan baik sekaligus mencerminkan penyaluran kredit yang masih seimbang terhadap dana yang dihimpun.
Sementara itu, NIM turun menjadi 4,66 persen seiring meningkatnya biaya dana, sedangkan BOPO naik tipis menjadi 89,25 persen yang menandakan masih adanya ruang untuk meningkatkan efisiensi.
Rentabilitas Bank NTT menunjukkan gambaran yang cukup menarik. ROE meningkat dari 4,97 persen menjadi 6,15 persen, yang mengindikasikan kemampuan manajemen dalam mengelola modal untuk menghasilkan keuntungan semakin baik.
Meski ROA turun dari 1,17 persen menjadi 0,98 persen, lonjakan laba bersih, pertumbuhan DPK yang melampaui industri, kualitas kredit yang tetap sehat, serta keberhasilan menekan beban operasional menjadi faktor utama yang mendorong kinerja positif Bank NTT sepanjang semester pertama 2026. (*) Ari Nugroho


