Poin Penting
- Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah membeli SBN di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah dan menarik investor asing kembali masuk
- Sejak pekan lalu, pemerintah telah menyerap SBN Rp2,22 triliun dengan target pembelian Rp2 triliun per hari
- Intervensi tersebut mulai menurunkan yield obligasi dan dinilai mampu memulihkan kepercayaan investor di pasar SBN.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah telah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal itu dengan membeli kembali surat utang pemerintah yang dilepas oleh investor.
Purbaya mengaku, langkah ini dapat menarik kembali aliran modal asing (inflow) di SBN. Sehingga diharapkan mampu menjaga harga obligasi tetap stabil di tengah tekanan serta mengembalikan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia.
“Kita masuk untuk menstabilkan harga sehingga asing juga masuk. Buktinya kan hari ini masuk Rp500 miliar di pasar sekunder. Rp1,6 triliun di pasar primer. Karena mereka tahu harganya akan stabil,” kata Purbaya dalam APBN Kita, dikutip, Rabu 20 Mei 2026.
Baca juga: Redam Gejolak Rupiah, Purbaya Sudah Masuk Pasar Obligasi Sejak Pekan Lalu
Purbaya menyatakan, mulai Rabu pekan lalu pemerintah telah membeli surat utang dari pasar sekunder sekitar Rp100 miliar. Kemudian, pada Senin (18/5/2026), pemerintah menyerap kembali obligasi dari pasar senilai Rp830 miliar dan pada Selasa (19/5/2026) senilai Rp1,29 triliun atau secara total senilai Rp2,22 triliiun. Ditargetkan pembelian SBN tersebut mencapai Rp2 triliun setiap harinya.
“Ada yang jual kita beli, domestik atau asing kita beli. Ketika melihat itu kan kelihatan di pasar ada yang harga bond-nya emang baik. Asing ikut beli juga. Ini yang kita bilang mengembalikan investor ke pasar obligasi kita. Dia untungnya bisa double-double kalau dia masuk sekarang,” ungkapnya.
Mantan Bos Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini menyebut dampak dari intervensi ini mulai terlihat, di mana Yield SBN tenor 10 tahun tercatat turun sekitar 4 basis poin, sementara yield tenor lima tahun turun sekitar 10 basis poin.
“Ini bukan anomali. Ini keberhasilan pemerintah mengembalikan kepercayaan ke bond market kita,” tambahnya.
Purbaya menegaskan, pos anggaran yang digunakan untuk operasi pasar ini bukan hanya bersumber daro Saldo Anggaran Lebih (SAL).
“Nggak, kita pakai semua sumber dana yang ada secara optimal gitu aja. Bukan hanya SAL,” ujarnya.
Baca juga: Purbaya soal Isu Badan Ekspor: Saya Gak Tahu, Presiden yang Umumin
Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Suminto menjelaskan pemerintah tidak menyimpan SBN yang telah dibeli. Namun, dapat dijual kembali oleh pemerintah.
“Jadi itu adalah pembelian sementara yang nanti bisa dijual kembali,” imbuh Suminto. (*)
Editor: Galih Pratama


