Poin Penting
- Utang baru APBN 2026 per Maret mencapai Rp258,7 triliun atau 31,1 persen target, lebih rendah dari tahun lalu
- Kemenkeu memastikan pembiayaan utang dilakukan prudent dan terukur untuk menjaga likuiditas pemerintah
- Total pembiayaan APBN hingga Maret 2026 tercatat Rp257,2 triliun, dengan non-utang minus Rp1,3 triliun.
Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat pemerintah per Maret 2026 telah menarik utang baru Rp258,7 triliun untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Angka tersebut setara 31,1 persen dari target APBN 2026 senilai Rp832,2 triliun. Total pembiayaan utang APBN itu lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang senilai Rp272,2 triliun di Maret 2025 atau 35,1 persen dari APBN.
“Pembiayaan APBN 2026 dikelola secara prudent dan terukur serta memperhatikan likuiditas pemerintah, kondisi kas yang optimal, dan dinamika pasar keuangan,” dikutip dari laporan APBN edisi April 2026, dikutip, Kamis 7 Mei 2026.
Baca juga: Restrukturisasi Utang Whoosh Dialihkan ke Kemenkeu, Ini Penjelasan Danantara
Kemenkeu menyatakan, pemenuhan pembiayaan utang berjalan on-track melalui langkah antisipatif dan active cash & debt management untuk menjaga ketersediaan kas pemerintah yang memadai dan saldo anggaran lebih (SAL) yang tetap kuat.
Secara keseluruhan, pembiayaan anggaran hingga Maret 2026 mencapai Rp257,2 triliun atau setara 37,3 persen dari target APBN yang senilai Rp689,1 triliun. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan akhir Maret 2025 yang sebesar Rp252,5 triliun.
Baca juga: ISEAI Soroti ‘Tembok Utang’ 2026, Jatuh Tempo Tembus Rp833 Triliun
Pembiayaan tersebut terdiri atas pembiayaan utang sebesar Rp258,7 triliun dan pembiayaan non-utang sebesar minus Rp1,3 triliun atau 0,9 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp143,1 triliun.
“Pemenuhan target pembiayaan mempertimbangkan cost of fund yang efisien dan risiko yang termitigasi serta tata kelola yang baik dan terjaganya indikator utang pada level yang aman,” tulis laporan tersebut. (*)
Editor: Galih Pratama


