Poin Penting
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit APBN kuartal I 2026 sebesar Rp240,1 triliun (2,68 persen PDB), masih di bawah batas aman 3 persen
- Pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun (18,2 persen target APBN) atau tumbuh 10,5 persen yoy, sementara belanja negara Rp815,0 triliun (21,2 persen APBN)
- Defisit dipicu peningkatan belanja untuk pemerataan, dengan keseimbangan primer juga defisit Rp89,7 triliun hingga Maret 2026.
Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan posisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per kuartal I 2026 mengalami defisit Rp240,1 triliun.
Angka tersebut mencapai 2,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dalam negeri, atau 0,93 persen terhitung secara year to date (ytd) sampai dengan Maret 2026.
Purbaya menegaskan, defisit APBN ini masih di bawah batas maksimal sebesar 3 persen. Dia juga memastikan akan terus mengendalikan defisit di bawah batas maksimal.
“Yang jelas, sepanjang tahun ini kami akan kendalikan (defisit) di bawah 3 persen, sesuai dengan desain APBN. Jadi, sekarang defisit APBN Rp240,1 triliun atau 0,93 persen (real),” ungkapnya dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Baca juga: Wamenkeu Beberkan Resep Jaga Defisit APBN di Bawah 3 Persen
Hingga periode tersebut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah mengantongi pendapatan negara Rp574,9 triliun, atau sekitar 18,2 persen dari APBN 2026 yang ditarget mencapai Rp3.153,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 10,5 persen secara tahunan (yoy).
Sementara belanja negara di kuartal I 2026 tercatat mencapai Rp815,0 triliun. Jumlah tersebut naik 31,4 persen (yoy), dan sudah mencapai 21,2 persen dari APBN. Menurut Purbaya, hal ini mencerminkan pemerataan belanja di berbagai sektor.
Baca juga: Soal Aturan Pembiayaan Kopdes Ditanggung APBN, Airlangga Bilang Begini
“Belanja negara ampai dengan Maret tumbuhnya 31 persen. Ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya tumbuh 1,4 persen. (Dan) ini upaya (untuk) pemerataan belanja sepanjang tahun,” tegasnya.
Terakhir, keseimbangan primer di periode ini berada di posisi defisit Rp89,7 triliun. Keseimbangan primer tersebut mencapai 106,8 persen dari keseluruhan APBN. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


