Poin Penting
- Purbaya menyebut penempatan dana SAL ke Himbara meningkatkan likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen
- Purbaya menilai indikator likuiditas yang digunakan sebelumnya keliru karena bank dinilai ample, tetapi kekurangan dana untuk ekspansi
- Setelah injeksi dana, pertumbuhan M0 naik dari hampir 0 persen menjadi sekitar 11–13 persen, dan ekonomi tumbuh 5,39 persen pada kuartal IV 2025 serta 5,61 persen pada kuartal I 2026.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke himpunan bank milik negara (Himbara) berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui level 5 persen.
Menurut Purbaya, saat dirinya dilantik sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, kondisi perekonomian nasional tengah mengalami perlambatan yang tidak banyak disadari. Hal tersebut tercermin dari kontraksi pendapatan pajak negara, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tercatat sebesar 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Pendapatan pajak tahun lalu kontraksi, banyak orang bingung apakah kebijakan kita betul. Saya jadi Menteri September 2025, saat itu ekonomi melambat signifikan, banyak orang nggak sadar,” kata Purbaya dalam rapat kerja bersama DPR RI, Rabu, 15 Juli 2026.
Baca juga: Purbaya Jelaskan Alasan Pemerintah Tarik lalu Kembalikan Dana SAL ke Himbara
Ia menjelaskan, pada saat itu terdapat kesalahan indikator dalam mengukur likuiditas di pasar keuangan. Berbagai otoritas, termasuk perbankan, menilai likuiditas berada pada kondisi ample, namun bank-bank justru kesulitan memperoleh dana untuk melakukan ekspansi.
“LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), Bank Indonesia (BI), OJK (Otoritas Jasa Keuangan), semua bilang ample tapi data mereka salah semua. Saya di LPS cukup lama, saya minta ke orang-orang LPS, coba deh cari indikator yang pas, kenapa ample tapi bank nya kurang uangnya? Karena kita monitor, interbank naik kenceng, kadang deposito naik kenceng. Jadi ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai, oleh KSSK selama ini. Saya sudah minta tim KSSK perbaiki itu, tapi rupanya belum dapat,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Purbaya memilih menggunakan indikator base money atau uang primer (M0) untuk melihat kecukupan uang dalam sistem keuangan. Ia menilai pertumbuhan M0 yang mendekati nol pada periode April–Agustus 2025 menunjukkan aktivitas ekonomi sedang tertahan.
“Jadi kita pakai indikator basic, kita bilang base money/money supply (M0). Base money itu adalah uang yang dikendalikan oleh BI, merupakan bibit dari uang-uang yang berikutnya terjadi. Waktu itu, M0 tumbuh 0 persen, di beberapa bulan, dari April-Agustus 2025, pertumbuhan uang hampir nol. jadi kalo kita liat indikator keuangan yang betul menurut Milton Friedman kita lagi nggak ada pertumbuhan uang. Artinya, ekonomi lagi direm,” ungkapnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah kemudian menempatkan dana SAL ke bank-bank Himbara yang sebelumnya dikelola oleh bank sentral. Langkah ini dilakukan guna menambah likuiditas di pasar dan mendorong pertumbuhan uang primer.
Purbaya mencatat, setelah penempatan dana tersebut, pertumbuhan M0 meningkat menjadi sekitar 11 persen pada September 2025 dan mendekati 13 persen pada periode berikutnya.
Baca juga: OJK Tak Berwenang Atur Pemanfaatan Dana SAL di Himbara, Pengawasan Tetap Jalan
Menurutnya, peningkatan likuiditas tersebut berkontribusi terhadap kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,39 persen pada kuartal IV 2025 dan 5,61 persen pada kuartal I 2026.
“Ini merupakan salah satu acuan yang saya pegang. Sampai sekarang lumayan, kita liat kita inject, uangnya tumbuh dari 0, September naik jadi 11 persen, mendekati 13 persen. Itu yang membuat ekonomi kita tumbuh jadi 5,39 persen di kuatal IV 2025. kita lanjutkan, ekonomi tumbuh 5,61 persen di kuartal I 2026,” tukasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


