Poin Penting:
- Jumhur Hidayat dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup dalam Kabinet Merah Putih menggantikan Hanif Faisol Nurofiq.
- Latar belakang Jumhur sebagai aktivis buruh menjadi simbol representasi pekerja di pemerintahan.
- Kalangan serikat pekerja berharap Jumhur tetap menjaga idealisme perjuangan buruh dalam jabatannya.
Jakarta – Jumhur Hidayat resmi menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih pada Senin (27/4/2026). Penunjukan Jumhur Hidayat menjadi sorotan karena latar belakangnya sebagai tokoh buruh yang lama berkecimpung dalam gerakan pekerja di Indonesia.
Ia menggantikan Hanif Faisol Nurofiq, yang pada saat bersamaan dilantik sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan. Masuknya figur serikat pekerja ke dalam kabinet dinilai sebagai momentum penting bagi representasi buruh di tingkat pemerintahan.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menyebut pengangkatan ini sebagai kehormatan bagi seluruh gerakan buruh. “Saya sudah mengetahui bahwa akan ada tokoh buruh masuk kabinet, dan kami anggap ini adalah kehormatan untuk seluruh gerakan buruh Indonesia,” kata Andi di Jakarta.
Baca juga: Reshuffle Kabinet Prabowo: Dudung jadi Kepala KSP, Jumhur Menteri LH
Profil Jumhur Hidayat dan Perjalanan Aktivisme Buruh
Jumhur Hidayat lahir pada 18 Februari 1968 di Bandung, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai aktivis yang konsisten memperjuangkan hak-hak buruh dan pekerja di Indonesia. Jumhur adalah Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) periode 2022-2027.
Pendidikan ditempuhnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada jurusan Teknik Fisika. Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Nasional dan meraih gelar master di bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia.
Kariernya di pemerintahan dimulai ketika ia ditunjuk sebagai Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) pada Januari 2007 oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ia menjabat hingga 11 Maret 2014. Saat ini, BNP2TKI telah bertransformasi menjadi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Selain aktif di organisasi, Jumhur juga produktif menulis buku, di antaranya Jujur Terhadap Habibie (1999), Bumiputera Menggugat, dan Manifesto Kekuatan Ketiga (2002). Ia juga pernah meraih Soegeng Sarjadi Award on Good Governance pada 2011.
Karier Politik dan Peran di Partai
Dalam dunia politik, Jumhur memulai kiprahnya melalui Partai Daulat Rakyat pada Pemilu 1999 yang berhasil memperoleh satu kursi di DPR RI. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal partai tersebut.
Ketika Partai Daulat Rakyat bergabung dengan tujuh partai lain dan membentuk Partai Sarikat Indonesia pada 17 Desember 2002 di Surabaya, Jumhur kembali dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal. Posisi ini memperkuat perannya dalam membangun kekuatan politik berbasis kerakyatan dan buruh.
Baca juga: Istana Bersiap Reshuffle, Dudung, Hasan Nasbi dan Jumhur Hadir Jelang Pelantikan
Harapan Buruh terhadap Kepemimpinan di Kementerian LH
Masuknya Jumhur Hidayat ke dalam kabinet memunculkan harapan besar dari kalangan buruh. Andi Gani Nena Wea menyampaikan pesan agar Jumhur tetap memegang teguh idealisme perjuangan pekerja.
“Bung Jumhur menyampaikan ke saya, pasti beliau tidak akan pernah meninggalkan idealisme sebagai pimpinan buruh,” ujarnya.
Harapan ini mencerminkan ekspektasi agar kebijakan lingkungan hidup ke depan tidak hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan pekerja yang terdampak.
Dengan rekam jejak panjang sebagai aktivis dan pemimpin serikat pekerja, Jumhur Hidayat kini menghadapi tantangan baru sebagai Menteri Lingkungan Hidup, membawa harapan besar bagi integrasi isu buruh dan lingkungan dalam kebijakan nasional. (*)
Editor: Galih Pratama








