Poin Penting
- Industri sawit membutuhkan riset aplikatif untuk meningkatkan produktivitas dan sustainability
- BPDP telah mendanai 400 riset sawit, namun implementasi di industri masih minim
- PASPI mendorong riset sawit lebih market-driven agar mampu menjawab persoalan industri dan pasar global.
Jakarta – Industri kelapa sawit dinilai membutuhkan riset yang lebih aplikatif dan mampu menjawab persoalan riil di lapangan seiring tantangan produktivitas, sustainability, hingga persaingan global yang semakin kompleks.
Industri sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar nasional dengan nilai ekspor mencapai lebih dari USD35,8 miliar per tahun. Namun produktivitas perkebunan sawit nasional dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan di kisaran 3,5 ton – 3,7 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektare.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengatakan selama ini jumlah riset di sektor sawit terus meningkat. Hingga 2025, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tercatat telah mendanai sekitar 400 judul penelitian yang mencakup sektor hulu hingga hilir industri kelapa sawit.
Baca juga: Begini Cara Astra Agro Lestari Dukung Kontribusi Industri Sawit Wujudkan NZE
Riset tersebut meliputi berbagai topik mulai dari pengembangan biomassa dan material berbasis sawit bernilai tambah tinggi hingga kajian sustainability dan ekonomi sirkular.
“Riset yang dibiayai BPDP mulai dari hulu hingga hilir sektor kelapa sawit. Dari sudut ini, komitmen BPDP dalam mendukung riset-riset sawit sangat jelas terlihat,” katanya di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Namun demikian, sebagian besar hasil penelitian sawit masih berhenti pada tahap publikasi ilmiah dan belum banyak diimplementasikan menjadi inovasi bisnis di industri.
“Yang diperlukan industri sawit adalah inovasi bisnis. Agak ironi memang, riset-riset sawit semakin banyak tetapi produktivitas sawit stagnan bahkan menurun,” ujarnya.
Menurut Tungkot, tantangan tersebut perlu menjadi perhatian mengingat industri sawit nasional tengah menghadapi tekanan peningkatan produktivitas, efisiensi, serta tuntutan keberlanjutan dari pasar global.
Ia mencontohkan, berbagai penelitian terkait penyakit ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit hingga kini belum mampu menghasilkan solusi nasional yang efektif untuk diterapkan di lapangan.
“Inilah tantangan ke depan yang harus dilakukan bagaimana mempercepat implementasi hasil riset (invensi) menjadi inovasi bisnis dan kebijakan,” katanya.
Ia menilai paradigma riset sawit ke depan perlu bergeser dari supply-driven menjadi market-driven agar hasil penelitian benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar.
Pelaku industri membutuhkan riset yang mampu menjadi problem solving terhadap berbagai persoalan utama seperti peningkatan produktivitas kebun, efisiensi biaya produksi, penguatan aspek sustainability, hingga pengembangan produk turunan dan pasar baru.
“Secanggih apapun riset jika tidak bisa menghasilkan solusi bagi masalah riil yang dihadapi industri sawit, tidak banyak gunanya,” ujarnya.
Baca juga: Sawit hingga Nikel, Ini Komoditas yang Diharapkan Bebas Tarif Impor AS 19 Persen
Selain aspek produktivitas dan hilirisasi, Tungkot juga menyoroti pentingnya riset dalam menjawab isu persepsi negatif terhadap sawit di pasar global. Menurutnya, tantangan kampanye negatif terhadap sawit perlu diimbangi dengan dukungan riset dan penguatan data ilmiah yang lebih masif.
“Kalau persepsi masyarakat tentang sawit semakin jelek dan dibiarkan berlarut-larut maka secara perlahan akan menghancurkan masa depan sawit. Era informasi saat ini jangan anggap enteng tentang persepsi,” pungkasnya. (*) Ayu Utami


