Poin Penting
- Tiga proyek panas bumi PGE memperoleh komitmen pendanaan internasional senilai USD477,87 juta.
- Dukungan pendanaan didorong oleh kinerja keuangan dan produksi listrik yang terus meningkat.
- Pendanaan diharapkan memperkuat struktur pembiayaan dan meningkatkan keekonomian proyek jangka panjang.
Jakarta – Tiga proyek panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memperoleh dukungan pendanaan internasional hingga USD477,87 Juta. Dukungan pendanaan tersebut diperoleh atas performa bisnis di kuartal I-2026 menguat.
Adapun ketiga proyek tersebut meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 (55 megawatt/MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta PLTP Lahendong Unit 7–8 (50 MW).
Direktur Utama PGE Ahmad Yani, mengatakan, pendanaan yang didapatkan tersebut diharapkan dapat membantu Perseroan mempertahankan cost of debt yang kompetitif sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.
Baca juga: Dukung Dekarbonasi, PGE Hemat Energi 90.502 MWh Sepanjang 2025
“Selain membantu menjaga struktur pendanaan yang sehat dan mempertahankan cost of debt yang kompetitif, masuknya ketiga proyek ini juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan dan para pemangku kepentingan,” kata Ahmad, dalam keterangannya, Senin, 8 Juni 2026.
Kinerja Keuangan dan Produksi Terus Menguat
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGE mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 40 persen yakni USD43,90 juta, dibandingkan USD31,35 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).
Perseroan juga membukukan pendapatan sebesar US$116,56 juta atau meningkat 14,8 persen dibandingkan USD101,507 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif ini ditopang oleh pertumbuhan produksi yang konsisten. Pada 2025, PGE mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) dengan total produksi mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55 persen dibandingkan 4.827 GWh pada 2024.
Tren positif tersebut berlanjut pada kuartal I-2026, ketika produksi listrik meningkat 15,22 persen (YoY) menjadi 1.370 GWh.
Baca juga: Obligasi Global PT SMI Senilai USD300 Juta Oversubscription 7,3 Kali
Ia menambahkan, di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan ketahanan energi global, masuknya proyek-proyek Perseroan ke dalam Green Book 2026 Bappenas menjadi pengakuan atas kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya.
“Kami melihat kinerja positif yang dibukukan Perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai pemangku kepentingan terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE,” jelasnya.
Masuk Green Book 2026 Bappenas
Diketahui, Green Book 2026 yang secara resmi bernama Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 memuat proyek-proyek nasional yang berhasil mendapatkan komitmen pendanaan luar negeri yang dikoordinasikan Pemerintah Indonesia melalui berbagai mitra pembangunan internasional.
Daftar tersebut disusun berdasarkan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. 52/M.PPN/IIK/06/2026.
Baca juga: PGE Tegaskan Kapabilitas Subsurface Panas Bumi RI di Kancah Global
Sebelumnya, proyek-proyek tersebut telah masuk dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025–2029 (Blue Book) Bappenas yang telah memenuhi berbagai aspek kesiapan teknis, finansial, lingkungan, dan kelembagaan yang dipersyaratkan.
Masuknya proyek ke dalam Green Book menjadi tonggak penting menuju implementasi dan pengembangan lanjutan.
Adapun ketiga proyek tersebut tercantum dalam skema on-lending melalui pembiayaan concessional loanyang menawarkan suku bunga lebih atraktif serta tenor yang lebih panjang dibandingkan pembiayaan komersial.
Rincian Pendanaan Tiga Proyek
Nilai total pinjaman yang tercantum dalam Green Book 2026 mencapai USD477,87 juta, dengan rincian:
- PLTP Lumut Balai Unit 3 (target COD 2030) : USD158,86 juta dari JICA
- PLTP Lumut Balai Unit 4 (target COD 2032) : USD148,97 juta dari JICA
- PLTP Lahendong Unit 7–8 (target COD 2030) : USD170,04 juta dari World Bank (*)
Editor: Yulian Saputra


