Poin Penting
- PGE mencatat penghematan energi sebesar 90.502 MWh sepanjang 2025.
- Efisiensi didorong optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi.
- Intensitas emisi PGE tetap rendah dan di bawah standar global.
Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus memperkuat perannya dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia dan kontribusi terhadap Nationally Determined Contribution (NDC) melalui penyediaan energi rendah karbon.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho mengatakan, penerapan praktik keberlanjutan secara konsisten menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan panas bumi yang andal, efisien, dan berdaya saing.
Andi menambahkan, seluruh implementasi keberlanjutan Perseroan dijalankan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global. Pelaporan keberlanjutan Perseroan juga telah melalui proses verifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000 dengan kualifikasi assurance type 1 dan type 2 level moderate.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, PGE mencatat penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh sepanjang tahun lalu, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 40.058,77 MWh.
“Peningkatan efisiensi tersebut didorong oleh berbagai optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP), antara lain debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu yang memungkinkan sumur bertekanan rendah masuk ke sistem produksi, optimalisasi operasional vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh PLTP PGE untuk menekan own use, serta modifikasi hand control valve di Lumut Balai guna meminimalkan uap yang terbuang ke rock muffler,” ujar Andi, dalam keterangannya, dikutip Jumat, 15 Mei 2026.
Baca juga: PGE Catat Produksi Listrik Tumbuh 15 Persen di Q1 2026, Dorong Pendapatan dan Laba
Menurutnya, perseroan juga terus mendorong berbagai inovasi efisiensi energi dan pengurangan emisi, termasuk pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan internal operasional seperti penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas operasional dan perkantoran.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan listrik dan uap panas bumi agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap sistem ketenagalistrikan nasional.
Intensitas Emisi Tetap Rendah
Di sisi lain, PGE mencatat rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada 2025 atau turun 10,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio tersebut merupakan perbandingan antara total energi yang dikonsumsi Perseroan dengan total listrik panas bumi yang diproduksi.
“Capaian ini mencerminkan semakin efisiennya penggunaan energi dalam mendukung operasional perusahaan. Sementara itu, penggunaan energi terbarukan dalam operasional tetap terjaga tinggi mencapai 94,36 persen,” jelasnya.
Baca juga: PGE Catat Laba USD43,89 Juta di Kuartal I 2026, Tumbuh 40 Persen
Andi menambahkan, dari sisi pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh atau masih berada jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa operasional panas bumi PGE tetap berada dalam kategori energi rendah karbon. Pada saat yang sama, kapasitas operasi panas bumi PGE turut berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e pada 2025. (*)
Editor: Yulian Saputra


