Poin Penting
- Produksi listrik PGE tumbuh 15,22 persen yoy menjadi 1.370 GWh.
- Pendapatan naik 14,82 persen menjadi USD116,56 juta.
- Laba bersih melonjak 40 persen menjadi USD43,89 juta.
Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (IDX: PGEO) mencatat kinerja positif sepanjang kuartal I-2026, ditopang peningkatan produksi listrik.
Produksi listrik PGE tumbuh 15,22 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 1.370 gigawatt hour (GWh). Peningkatan ini menjadi pendorong utama kinerja perseroan pada awal tahun.
Sejalan dengan itu, PGE membukukan pendapatan sebesar USD116,56 juta yoy, meningkat 14,82 persen dari USD101,51 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih juga melonjak 40 persen menjadi USD43,899 juta, dari sebelumnya USD31,352 juta.
Baca juga: PGE Catat Laba USD43,89 Juta di Kuartal I 2026, Tumbuh 40 Persen
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyampaikan bahwa kenaikan produksi pada periode ini mencerminkan optimalisasi aset dan efisiensi operasional yang semakin baik di berbagai area operasi.
“Tren positif ini mencerminkan kinerja operasional yang semakin optimal, seiring dengan terjaganya keandalan aset dan peningkatan efisiensi produksi,” ujar Andi dalam paparan Earnings Call kepada investor dan analis yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Andi lebih jauh mengungkapkan, kinerja tersebut juga ditopang oleh kontribusi dari sejumlah wilayah kerja utama, antara lain Kamojang (483 GWh), Lahendong (213 GWh), Ulubelu (408 GWh), Lumut Balai (240 GWh), dan Karaha (26 GWh).
“Peningkatan ini turut diperkuat oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) sejak pertengahan 2025,” sambung Andi.
Baca juga: PGE Tegaskan Kapabilitas Subsurface Panas Bumi RI di Kancah Global
Selain itu, Perseroan juga mencatat kenaikan capacity factor sebesar 5,03 persen secara tahunan menjadi 90,77 persen. Sementara availability factor turut meningkat sebesar 0,27 persen menjadi 99,63 persen.
Target dan Proyek Strategis
Di sisi lain, Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengungkapkan, pihaknya menargetkan peningkatan produksi listrik dan uap terkonsolidasi hingga mencapai 5.255 GWh pada 2026.
Untuk mencapai target tersebut, Perseroan terus mengakselerasi pengembangan berbagai proyek strategis, di antaranya PLTP Hululais Unit 1 dan 2 berkapasitas 2×55 MW, serta proyek co-generation dengan total kapasitas mencapai 230 MW.
“Kami memastikan seluruh proyek ini berjalan sesuai rencana, agar dapat menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang Perseroan,” jelas Ahmad.
Baca juga: Indonesia Pegang 40 Persen Cadangan Panas Bumi Dunia, Ini Kata PGE
Ke depan, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034. Perseroan juga terus mengoptimalkan potensi 3 GW yang telah diidentifikasi.
Sejumlah proyek strategis yang menjadi bagian dari pengembangan tersebut antara lain Ulubelu Binary Unit (BU) berkapasitas 30 MW yang ditargetkan beroperasi secara penuh (commercial operation date/COD) pada 2027.
Selain Hululais Unit 1 dan 2, PGE juga menargetkan sejumlah proyek lainnya untuk mulai beroperasi penuh pada 2028, meliputi Kamojang Low Pressure (LP) (5 MW), Lahendong LP (15 MW), Lahendong BU Unit 1 (15 MW), Lumut Balai BU Unit 1 (10 MW), Sibayak BU (5 MW), serta Hululais BU Unit 1 (30 MW).
PGE juga menyiapkan pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW dengan target operasi pada 2030.
Kontribusi terhadap Keberlanjutan
Dari sisi keberlanjutan, hingga 31 Maret 2026, PGE mencatat penghindaran emisi sebesar 1.167.992,70 ton CO2e dibandingkan dengan emisi dari pembangkit listrik berbasis batu bara.
Saat ini, PGE mengelola 15 wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, terdiri dari 727 MW yang dioperasikan langsung dan 1.205 yang dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama. (*) Steven Widjaja


