Poin Penting
- Laba PGE naik 40 persen yoy jadi USD43,9 juta di kuartal I 2026; pendapatan tumbuh 14,8 persen jadi USD116,6 juta
- Keuangan solid: Ekuitas naik ke USD2,09 miliar, liabilitas turun 2,44 persen
- Ekspansi EBT: Target kapasitas 1 GW (2028) dan 1,8 GW (2034).
Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan laba bersih sebesar USD43,899 juta di kuartal I 2026, naik 40 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, USD31,352 juta.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGE membukukan pendapatan sebesar USD116,555 juta atau meningkat 14,8 persen yoy dibandingkan USD101,507 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hutabarat mengatakan, kinerja solid yang dicatat perseroan didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan perseroan.
“Selain itu, capaian ini juga menempatkan PGE pada posisi keuangan yang solid untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Fransetya, dalam keterangannya, Kamis, 30 April 2026.
Dari segi ekuitas, kata Fransetya, perseroan mencatatkan peningkatan dari USD2,04 miliar pada kuartal I-2025 menjadi USD2,09 miliar pada kuartal I 2026.
Baca juga: Gelar RUPST, PGE Laporkan Laba Bersih USD137 Juta dan Tunjuk Direktur Keuangan Baru
Peningkatan ini menunjukkan bahwa PGE berada dalam kondisi keuangan yang sehat, dengan kemampuan yang kuat dalam memenuhi kewajiban dan menghasilkan laba.
Sementara itu, liabilitas PGE turun 2,44 persen dibandingkan 31 Desember 2025, menjadi USD964,737 juta. Penurunan ini berdampak positif terhadap penguatan struktur modal serta penurunan risiko keuangan perseroan.
Panas Bumi: Kunci Transisi dan Ketahanan Energi Nasional
Sementara, Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan bahwa di tengah ketegangan geopolitik dan krisis energi global, transisi energi harus tetap menjadi prioritas.
Menurutnya, kondisi global tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin mengoptimalkan pengembangan panas bumi.
Sejalan dengan itu, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama, yakni optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru.
Baca juga: PGEO Rampungkan Proyek Pemipaan Kamojang, Perkuat Energi Bersih Nasional
“Kinerja solid PGE dalam beberapa tahun terakhir menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Ke depan, capaian ini menjadi bekal bagi kami untuk terus berekspansi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” bebernya.
Terkait, perkembangan sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) juga menunjukkan arah yang semakin positif. Hal ini tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034, yang menargetkan porsi EBT mencapai 76 persen. Selama periode tersebut, panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
“Untuk mendukung pencapaian target target tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034,” jelasnya.
Saat ini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah.
Dengan mengelola sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGE menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan. (*)
Editor: Galih Pratama




