Poin Penting:
- WHO mencatat lebih dari 1.300 orang meninggal akibat gelombang panas di Eropa sejak 21 Juni 2026.
- Prancis mengalami lonjakan angka kematian, sementara Jerman mencatat 13 korban jiwa akibat kecelakaan saat berenang.
- Inggris memecahkan rekor suhu tertinggi pada Juni dan memperpanjang status siaga cuaca panas.
Jakarta – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa terus memicu dampak serius di sejumlah negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 orang meninggal akibat cuaca panas sejak 21 Juni 2026.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui unggahannya di platform X menyebutkan lebih dari 1.300 kematian tambahan akibat cuaca panas ekstrem tercatat sejak 21 Juni.
Prancis melaporkan lonjakan angka kematian di atas perkiraan, Jerman mencatat belasan korban jiwa akibat kecelakaan saat berenang, sementara Inggris memperpanjang peringatan cuaca panas setelah mencetak rekor suhu tertinggi pada Juni.
Baca juga: Cuaca Tak Menentu, Kinerja Fintech Lending Berpotensi Terganggu
Data awal Badan Kesehatan Masyarakat Prancis menunjukkan sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari perkiraan sejak 24 Juni, ketika gelombang panas melanda sebagian besar wilayah negara tersebut. Mayoritas korban merupakan warga berusia di atas 65 tahun.
Lembaga tersebut juga mencatat peningkatan 40 persen kematian yang terjadi di rumah selama periode cuaca ekstrem. Mesk masih bersifat sementara, data itu menunjukkan dampak kesehatan yang signifikan akibat suhu tinggi yang berlangsung selama beberapa hari.
Gelombang Panas di Eropa Tingkatkan Risiko Kematian di Prancis
Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengingatkan bahwa dampak kesehatan akibat suhu ekstrem belum berakhir meski temperatur mulai menurun di sejumlah wilayah.
Menurutnya, Prancis kini mengalami jumlah kematian yang lebih tinggi dari biasanya, sebagaimana dilaporkan stasiun televisi BFMTV.
Di sisi lain, layanan medis darurat Paris (SAMU) melaporkan 80 kematian pada Sabtu (27/6), termasuk 30 kasus serangan jantung. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan 109 kematian yang tercatat sehari sebelumnya, namun otoritas menegaskan data itu hanya mencakup kasus yang ditangani layanan darurat Paris dan belum merepresentasikan keseluruhan angka kematian di ibu kota.
Baca juga: Prancis jadi Timnas Termahal di Piala Dunia 2026, Simak Daftar 10 Besarnya
Lonjakan korban jiwa terjadi setelah Prancis mengalami 11 hari berturut-turut cuaca panas ekstrem. Meski badai petir mulai menurunkan suhu di sejumlah daerah, rumah sakit masih menghadapi lonjakan pasien dengan penyakit terkait panas maupun komplikasi medis yang muncul belakangan.
Observatorium Keraunos juga mencatat lebih dari 127.000 sambaran petir terjadi di seluruh Prancis pada Sabtu malam, dengan aktivitas tertinggi berada di kawasan Paris hingga Hauts-de-France.
Meski cuaca mulai lebih sejuk, Meteo-France masih mempertahankan status siaga oranye di 22 departemen, termasuk Paris dan wilayah sekitarnya. Otoritas kesehatan pun mengimbau warga lanjut usia dan masyarakat yang tinggal sendiri tetap waspada karena dampak penuh gelombang panas di Eropa terhadap keselamatan jiwa belum dapat dipastikan.
Jerman Catat Belasan Korban Jiwa saat Cuaca Ekstrem
Cuaca panas berkepanjangan juga membawa dampak fatal di Jerman. Sebanyak 13 orang meninggal dunia akibat kecelakaan saat berenang selama akhir pekan ketika suhu tinggi mendorong masyarakat mencari kesejukan di danau maupun sungai.
Korban terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak berusia 6 tahun, bocah 8 tahun, hingga sejumlah pria dewasa dan lanjut usia yang tenggelam di berbagai wilayah, termasuk Heidelberg, Mannheim, Berlin, Frankfurt, Hanover, Dortmund, dan Danau Constance.
Jerman beberapa hari terakhir mengalami suhu yang mencapai bahkan melampaui 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut semakin membahayakan kelompok rentan, sementara kebiasaan langsung masuk ke air dingin saat cuaca sangat panas disebut dapat memberikan tekanan berat pada sistem peredaran darah.
Baca juga: Banjir Rendam Gorontalo, BMKG Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem
Inggris Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi Juni
Dampak gelombang panas di Eropa juga dirasakan Inggris. Met Office memperpanjang peringatan cuaca panas tingkat Amber hingga Minggu setelah negara itu mencatat rekor suhu tertinggi bulan Juni selama tiga hari berturut-turut.
Rekor terbaru mencapai 37,3 derajat Celsius yang tercatat di Santon Downham, Suffolk, pada Jumat. Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 35,6 derajat Celsius yang terjadi di Southampton pada 1976.
Kepala Prakirawan Met Office Andy Page mengatakan, “Panas luar biasa ini belum pernah terjadi sebelumnya untuk bulan Juni dan merupakan penanda lain tentang bagaimana perubahan iklim menggeser titik ekstrem suhu di Inggris.”
Meski suhu diperkirakan mulai turun secara bertahap, prakirawan tetap memperingatkan potensi badai petir yang dapat memicu hujan lebat, hujan es, sambaran petir, serta angin kencang.
Baca juga: Purbaya Dijadwalkan Terbang ke Tiongkok dan Inggris, Apa Misinya?
Suhu ekstrem juga mengganggu layanan publik di Inggris. Lebih dari 570 sekolah ditutup sebagian atau seluruhnya, sejumlah rumah sakit menetapkan status insiden kritis, operator kereta mengimbau masyarakat menunda perjalanan yang tidak mendesak, sementara layanan Eurostar membatalkan perjalanan London-Paris akibat gangguan operasional karena cuaca panas.
Selain Inggris, peringatan cuaca panas tingkat tertinggi juga diberlakukan di sejumlah negara Eropa Barat seperti Spanyol, Prancis, Italia, Swiss, Belanda, dan Luksemburg. Kondisi tersebut menunjukkan gelombang panas di Eropa masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat maupun layanan publik di berbagai negara. (*)
Editor: Yulian Saputra


