Poin Penting:
- Pemerintah mengkaji penyebab sekitar 60 ribu calon mahasiswa mengundurkan diri dari SNBP.
- Kendala ekonomi dan besaran UKT menjadi faktor yang akan ditelusuri pemerintah.
- Universitas Terbuka menawarkan sistem kuliah fleksibel sehingga mahasiswa dapat menunda studi tanpa mengundurkan diri.
Jakarta – Sebanyak 60 ribu calon mahasiswa dilaporkan mengundurkan diri dari Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Hal ini memicu perhatian pemerintah untuk mengkaji penyebab di balik fenomena tersebut.
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menegaskan proses pengumpulan data dilakukan secara menyeluruh agar langkah penanganan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, mengatakan pemerintah tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab mundurnya puluhan ribu calon mahasiswa tersebut. Seluruh data akan ditelaah secara rinci melalui koordinasi lintas sektor.
Baca juga: Kisruh SNBP, Komisi X Akan Panggil Menteri Pendidikan
Pemerintah juga akan menggelar rapat koordinasi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) untuk memperoleh gambaran yang utuh.
Pemerintah Telusuri Penyebab Pengunduran Diri SNBP
Ojat menegaskan pemerintah tengah mengidentifikasi berbagai faktor yang menyebabkan peserta tidak melanjutkan proses masuk perguruan tinggi melalui SNBP.
Menurutnya, koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi langkah penting agar solusi yang disiapkan tepat sasaran.
“Tentu kita harus lihat ini satu per satu datanya dan itu yang kita lakukan. Nanti akan ada rapat koordinasi lintas sektor, terutama dengan Dikti dan juga perangkat yang lebih banyak, termasuk MRPTNI,” kata Ojat seperti dikutip dari Antara.
Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen memastikan persoalan ekonomi tidak menghalangi siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Program pemerintah yang terpenting saat ini adalah bagaimana ketika ada anak-anak yang bagus, bertalenta, mereka jangan sampai terhambat dan tidak dapat kesempatan untuk kuliah di perguruan tinggi gara-gara masalah ekonomi,” ujarnya.
Baca juga: Komdigi Gandeng Perguruan Tinggi, Cetak Generasi Muda Melek AI
Selain mengkaji penyebab pengunduran diri, Ojat juga mendorong calon mahasiswa mempertimbangkan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) yang dinilai memiliki sistem pembiayaan lebih inklusif dan terjangkau, termasuk Universitas Terbuka (UT).
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih kritis menyikapi informasi di media sosial dengan membiasakan verifikasi fakta dan menghindari penyebaran hoaks.
Universitas Terbuka Tawarkan Sistem Kuliah Fleksibel
Rektor UT Prof. Ali Muktiyanto menilai persoalan pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pengunduran diri peserta SNBP. Menurutnya, setiap tahun terdapat sekitar 1,2 juta hingga 1,3 juta lulusan SMA yang belum berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena berbagai faktor, mulai dari ketatnya persaingan seleksi, salah memilih jurusan, hingga kendala ekonomi.
Ali menjelaskan sistem pembelajaran di UT memungkinkan mahasiswa menunda kuliah tanpa harus mengundurkan diri apabila mengalami kesulitan biaya.
“Kalau di UT tidak ada yang mengundurkan diri tapi menunda kuliah. Kalau semester depan tidak bisa, bisa menunda tahun berikutnya, bahkan menunda 10 tahun berikutnya bisa karena fleksibel. Jadi tidak ada masalah,” ucap Ali Muktiyanto.
Pemerintah kini masih mengumpulkan data untuk memastikan penyebab mundurnya sekitar 60 ribu calon mahasiswa dari SNBP, sehingga kebijakan yang diambil nantinya dapat menjamin akses pendidikan tinggi tetap terbuka bagi mahasiswa berprestasi tanpa terhambat persoalan ekonomi. (*)
Editor: Yulian Saputra


