Poin Penting:
- Peresmian tahap pertama PLTS 100 GW direncanakan berlangsung di Bali oleh Presiden Prabowo.
- Program PLTS 100 GW sudah masuk revisi RUPTL PLN 2025–2034 dan memiliki masterplan pengembangan.
- Pemerintah mempercepat tahap awal 17 GW dengan dukungan lahan 24 ribu hektare di Pulau Jawa.
Jakarta – Pemerintah menyiapkan Bali sebagai panggung peresmian tahap pertama proyek PLTS 100 gigawatt (GW). Presiden Prabowo Subianto diproyeksikan meresmikan langsung proyek energi surya terbesar yang disiapkan pemerintah.
Langkah ini menandai dimulainya fase awal pengembangan energi surya nasional. Pemerintah ingin mempercepat transisi menuju sumber listrik rendah emisi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan jadwal peresmian sedang diupayakan. Bali dipilih sebagai lokasi yang paling memungkinkan untuk acara tersebut.
“Saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 GW. Mungkin kita akan buat di Bali,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Antara, Senin (3/8).
Baca juga: PLN Minta Maaf Mati Lampu di Jakarta dan Tangsel Senin Pagi, Ini Penyebabnya
PLTS 100 GW Masuk RUPTL PLN
Bahlil memastikan program PLTS 100 GW telah masuk revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Pemerintah juga menyusun masterplan pengembangan proyek tersebut.
Masuknya proyek ini ke dalam RUPTL menunjukkan komitmen pemerintah. Pengembangan energi surya kini menjadi bagian perencanaan kelistrikan jangka panjang.
“Kami buat masterplan dengan perencanaan,” kata Bahlil.
PLTS Tahap Awal Dikebut 17 GW
Pemerintah menyiapkan pengembangan awal PLTS berkapasitas 17 GW. Tahap ini menjadi fondasi sebelum target 100 GW dijalankan penuh.
Kementerian ESDM bersama Kementerian ATR/BPN telah menyiapkan 24 ribu hektare lahan di Pulau Jawa. Lahan itu akan digunakan untuk pembangunan pembangkit tenaga surya skala besar.
Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan pemerintah menyiapkan koneksi dengan infrastruktur PLN. Transmisi dan gardu induk akan dihubungkan dengan pembangkit di kawasan tersebut.
Percepatan tahap awal difokuskan pada kapasitas 17 GW. Pemerintah menilai langkah bertahap lebih realistis untuk mengejar target transisi energi.
Baca juga: Pemerintah dan Industri Dorong PLTS Atap 1,3 GW, Ini Dampaknya
Tekan Impor Energi dan Dongkrak Ekonomi
Pengembangan PLTS 100 GW diperkirakan memberi dampak ekonomi besar. Nilai substitusi impor energi diproyeksikan mencapai 14,4 miliar dolar AS hingga 28,9 miliar dolar AS.
Proyek ini juga diperkirakan menambah kontribusi terhadap produk domestik bruto hingga 26,6 miliar dolar AS. Pemerintah berharap investasi dan aktivitas industri dalam negeri ikut terdorong.
Dengan Bali disiapkan sebagai lokasi peresmian tahap pertama, pemerintah ingin memberi sinyal kuat. Percepatan PLTS menjadi bagian penting strategi ketahanan energi dan transisi menuju listrik rendah emisi. (*)
Editor: Yulian Saputra


