Poin Penting
- Presiden Prabowo memproyeksikan dividen BUMN mencapai Rp200 triliun pada 2026 tanpa tambahan PMN.
- Pemerintah menyoroti perbaikan kinerja sejumlah BUMN sepanjang enam bulan pertama 2026.
- Garuda Indonesia ditargetkan mulai kembali membukukan keuntungan pada awal 2027.
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto memproyeksikan dividen badan usaha milik negara (BUMN) dapat mencapai Rp200 triliun pada 2026. Nilai tersebut disebut meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan 2024 tanpa tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN).
Prabowo menyebut dividen BUMN pada 2025 mencapai Rp138 triliun atau meningkat 160 persen dibandingkan posisi 2024. Sementara itu, laba BUMN pada 2024 tercatat sebesar Rp186 triliun, dengan dividen yang dibagikan mencapai Rp85,5 triliun.
Kepala Negara menyatakan, dividen BUMN pada 2026 diproyeksikan kembali meningkat hingga Rp200 triliun tanpa tambahan PMN.
“Tahun 2026 diproyeksikan kembali naik sampai dengan Rp200 triliun tanpa ada PMN artinya dari 2024 ke 2026 naik dari Rp53 triliun ke Rp200 triliun atau bisa dikatakan empat kali lebih besar, 400 persen meningkatnya tanpa PMN,” kata Prabowo dalam pidatonya di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca juga: Prabowo Klaim Investasi Rp1.010 Triliun Ciptakan 1,4 Juta Lapangan Kerja
Menurut Prabowo, peningkatan tersebut merupakan hasil dari pembenahan kinerja keuangan BUMN. Ia juga menegaskan pemerintah tidak akan menoleransi praktik manipulasi angka maupun laporan keuangan palsu.
“Saudara-saudara, saya juga ingatkan di sini bahwa kita tidak mau toleransi dengan permainan angka, dengan laporan palsu. Kita harus dapat angka-angka yang benar, angka yang tepat, walaupun kadang-kadang pahit,” imbuhnya.
Kinerja Sejumlah BUMN Meningkat
Mantan Menteri Pertahanan itu menyebut pembenahan BUMN mulai membuahkan hasil. Pada enam bulan pertama 2026, laba bersih PT Semen Indonesia disebut meningkat 408,9 persen.
Sementara itu, laba bersih PT Pupuk Indonesia naik 252,8 persen, PT Pertamina meningkat 86 persen, dan Pegadaian tumbuh 84,4 persen. PT Pelindo juga mencatat kenaikan laba 60,4 persen, sedangkan laba bersih PT PLN meningkat 54,4 persen.
“Garuda Indonesia yang hampir dipailitkan, yang pesawatnya adalah puluhan pesawat di-grounded, tidak bisa mereka perbaiki, kini kita berhasil reaktivasi pesawat-pesawat yang grounded. Per bulan Juni 2026, total pesawat yang berhasil kita reaktivasi bertambah 20 pesawat, sehingga menjadi 140 pesawat,” bebernya.
Baca juga: Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi, Penumpang Bisa Dapat Jatah hingga 64 Kg
Ia menambahkan Garuda Indonesia yang selama beberapa tahun mengalami kerugian kini memiliki peluang untuk kembali membukukan laba. Pemerintah berharap maskapai tersebut mulai mencatatkan keuntungan pada awal 2027. (*)
Editor: Yulian Saputra


