Poin Penting
- BI memproyeksikan transaksi ekonomi dan keuangan digital mencapai 147,3 miliar transaksi pada 2030, atau tumbuh sekitar empat kali lipat
- BI memperkuat transformasi sistem pembayaran melalui BSPI 2030 yang mencakup lima pilar, termasuk infrastruktur, industri, inovasi, internasionalisasi, dan pengembangan Rupiah Digital
- QRIS terus menjadi penggerak digitalisasi pembayaran, dengan 15 miliar transaksi, 45 juta merchant, dan 67 juta pengguna hingga Juli 2026.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) memperkirakan transaksi ekonomi dan keuangan digital (EKD) pada 2030 dapat mencapai 147,3 miliar transaksi, atau meningkat sekitar empat kali lipat dibandingkan saat ini.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan, peningkatan transaksi digital didorong oleh pesatnya inovasi teknologi, tingginya penggunaan internet, serta bonus demografi Indonesia. Kehadiran generasi muda, khususnya Gen Z, turut mempercepat adopsi layanan digital dalam aktivitas ekonomi.
“Dan diperkirakan itu akan meningkat di tahun 2030 itu empat kali lipat mencapai 147,3 miliar transaksi ekonomi keuangan digital,” ujar Filianingsih dalam Lampung Finansial Festival 2026 di Lampung, Sabtu, 5 September 2026.
Baca juga: BI: QRIS Jadi Pintu UMKM Naik Kelas dan Akses Pembiayaan Formal
Menurutnya, peningkatan transaksi digital tak lepas dari inovasi digital terus berkembang dengan pendekatan yang semakin berorientasi pada kebutuhan konsumen atau consumer centric. Perkembangan tersebut juga ditopang oleh pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan berbagai teknologi baru, seperti fingerprint, facial recognition, voice recognition, hingga retina scan.
Namun, pesatnya inovasi digital juga menghadirkan tantangan baru. Menurut Filianingsih, perkembangan tersebut tidak hanya menciptakan peluang, tetapi juga membawa berbagai risiko yang perlu diantisipasi.
“Nah, tetapi kita lihat bahwa inovasi yang terjadi ini tidak hanya memberi peluang tetapi dia juga menghadirkan tantangan. Ada risiko yang di sana,” katanya.
Untuk itu, lanjut Filianingsih, BI terus memperkuat arah transformasi sistem pembayaran melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI).
Setelah BSPI 2025, bank sentral melanjutkannya melalui BSPI 2030 yang menjadi arah pengembangan sistem pembayaran nasional ke depan.
“Kita lanjutkan dengan tahap kedua blueprint 2030,” tambahnya.
5 Pilar Utama Blueprint
Filianingsih menjelaskan, BSPI mencakup lima pilar utama, mulai dari pengembangan infrastruktur seperti BI-Fast. Lalu, pengaturan industri, inovasi, internasionalisasi, hingga pengembangan Rupiah Digital.
“QRIS merupakan salah satu inovasinya dan juga internasionalisasi dan juga Rupiah Digital. Ini adalah ke depan kita sedang persiapkan Rupiah Digital,” katanya.
QRIS Jadi Game Changer
Salah satu inovasi sistem pembayaran yang menjadi bagian penting dari transformasi digital adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Filianingsih menyebut QRIS telah menjadi game changer dalam sistem pembayaran Indonesia, termasuk ketika pandemi COVID-19.
“Transaksi tetap berjalan karena bisa tanpa tatap muka dilakukan pembayaran,” ujarnya.
Hingga Juli 2026, transaksi QRIS telah mencapai 15 miliar transaksi. Sementara itu, jumlah merchant yang menerima QRIS telah mencapai 45 juta dan pengguna QRIS mencapai 67 juta.
Ekosistem QRIS juga terus diperluas dengan melibatkan 96 bank, 60 lembaga nonbank, serta empat switching.
Baca juga: BI Bebaskan Tarif MDR QRIS Transaksi Rp100 Ribu Mulai 1 Oktober 2026
Dorong QRIS Go Global
Tak hanya memperluas transaksi domestik, BI juga terus mendorong QRIS untuk menembus pasar internasional melalui skema QRIS Cross Border.
“Dan kita bukan cuma jago kandang, QRIS ini sudah cross border. Jadi sudah lintas negara,” jelasnya.
Saat ini, konektivitas QRIS telah mencakup enam negara, yakni Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan China.
Filianingsih mengatakan, perluasan QRIS Cross Border memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia ketika melakukan transaksi di negara mitra tanpa harus melakukan penukaran mata uang secara konvensional.
Ke depan, BI juga tengah menjajaki konektivitas QRIS dengan sejumlah negara lain. Diskusi intensif dilakukan dengan Hong Kong, Timor-Leste, dan India. BI juga berharap konektivitas dengan Arab Saudi dapat segera diwujudkan.
“Jadi nanti kalau pergi umrah pergi haji nggak perlu tukar-tukar duit ya cukup bawa handphone-nya dan diisi saldonya,” tutup Filianingsih. (*)


