Poin Penting
- Kewajiban neto Posisi Investasi Internasional (PII) turun dari USD273,4 miliar menjadi USD227,6 miliar pada kuartal I 2026
- AFLN turun ke USD556,7 miliar, sementara KFLN turun ke USD784,3 miliar
- Rasio PII terhadap PDB membaik menjadi 15,5 persen, didukung dominasi kewajiban jangka panjang.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat kewajiban neto yang menurun. Pada akhir kuartal I 2026, PII Indonesia mencatat kewajiban neto sebesar USD227,6 miliar, turun dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir kuartal IV 2025 sebesar USD273,4 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kewajiban neto yang menurun dipengaruhi oleh penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih dalam dari penurunan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).
“Posisi AFLN Indonesia menurun terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi cadangan devisa sejalan dengan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” ujar Denny dalam keterangannya, Rabu, 10 Juni 2026.
Baca juga: Menakar Kesaktian Kenaikan Suku Bunga Acuan BI
Denny merinci, posisi AFLN pada akhir kuartal I 2026 tercatat sebesar USD556,7 miliar, turun 0,4 persen (qtq) dari USD559,1 miliar pada akhir kuartal IV 2025.
Penurunan posisi AFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga aset dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang negara penempatan aset, di tengah meningkatnya posisi aset investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya.
Sementara posisi KFLN Indonesia menurun di tengah aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio yang tetap terjaga.
Posisi KFLN Indonesia pada akhir kuartal I 2026 tercatat sebesar USD784,3 miliar, turun sebesar 5,8 persen (qtq) dari USD832,6 miliar pada akhir kuartal IV 2025.
Penurunan tersebut terutama bersumber dari pelemahan nilai instrumen keuangan domestik di tengah kinerja investasi langsung yang tetap membukukan surplus yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik.
Denny menambahkan, posisi investasi portofolio dan investasi lainnya menurun sejalan dengan pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.
“Selain itu, posisi KFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga saham dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah,” ungkapnya.
Denny menambahkan, BI memandang perkembangan PII Indonesia pada kuartal I 2026 tetap terjaga, sehingga mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tecermin dari rasio PII Indonesia terhadap PDB pada kuartal I 2026 sebesar 15,5 persen, lebih rendah dibandingkan 18,9 persen pada kuartal IV 2025.
Baca juga: OJK Pastikan Sektor Keuangan Tetap Stabil Meski BI Rate Naik ke 5,50 Persen
Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang (92,5 persen) terutama dalam bentuk investasi langsung.
Ke depan, BI senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.
“Selain itu, BI akan terus memantau potensi risiko terkait kewajiban neto PII terhadap perekonomian,” tutup Denny. (*)
Editor: Galih Pratama


