Poin Penting
- Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah akan menguat bertahap pada semester II 2026 setelah tertekan sentimen global, risk-off pasar keuangan, serta tekanan transaksi berjalan dan finansial
- Penguatan rupiah didukung sinergi kebijakan fiskal-moneter, perbaikan tata kelola DHE, pendalaman pasar keuangan, serta meningkatnya kepercayaan investor dan arus masuk modal asing
- Pemerintah memproyeksikan rupiah pada 2027 stabil di kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS, seiring membaiknya kondisi global dan target pertumbuhan ekonomi 5,8–6,5 persen.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II 2026.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah hingga Juni 2026 terutama dipicu oleh sentiment global, risk-off di pasar keuangan, hingga tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik.
“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II 2026,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu 10 Juni 2026.
Purbaya menjelaskan optimisme tersebut didasari dengan sinergi dan koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter, serta sektor keuangan.
Baca juga: Chatib Basri: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Belum Mengarah ke Krisis 1998
Selain itu, perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta pendalaman pasar keuangan diyakini akan memperkuat pasokan likuiditas valuta asing (valas) domestik.
Kemudian, kepercayaan investor serta potensi inflow Foreign Direct Investment (FDI) maupun portofolio, maka rupiah memiliki ruang untuk membaik secara bertahap pada Juni hingga Desember 2026.
“Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, pemerintah terus memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus memelihara momentum pertumbuhan. Sehingga diharapkan meningkatkan market confidence sehingga akan memperkuat pasokan valas domestik termasuk melalui kebijakan devisa hasil ekspor yang baru saja direvisi,” jelasnya.
Sementara untuk 2027, Purbaya menyebut konflik geopolitik antara AS-Israel dan Iran akan semakin mereda dan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan membaik.
“Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2027 terjaga stabil di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS,” ujar Purbaya.
Baca juga: Bersama BI dan OJK, Istana Terus Monitor Rupiah usai Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Lebih lanjut, kata Purbaya, Dengan strategi ekonomi yang tepat serta kebijakan fiskal yang prudent dan sustainable, pemerintah optimis perekonomian Indonesia pada 2027 dapat tumbuh kuat dalam kisaran 5,8 hingga 6,5 persen.
“Ini menjadu fondasi yang kuat untuk menuju pertumbuhan 8 persen dalam jangka menengah,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


