Poin Penting
- PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi pada Juli 2026.
- Subsektor manufaktur berorientasi ekspor mulai menunjukkan penguatan.
- Konsistensi investasi dan sinergi kebijakan fiskal-moneter menjadi kunci pertumbuhan ekonomi.
Jakarta – Permata Institute for Economic Research (PIER) menilai pemulihan sektor manufaktur dan investasi menjadi salah satu penopang ekonomi nasional, di tengah tantangan fiskal dan ketidakpastian global pada semester II 2026.
Head of Industry and Regional Research Permata Bank, Adjie Harisandi, mengungkapkan pemulihan sektor manufaktur menjadi salah satu sinyal positif bagi perekonomian nasional.
Hal tersebut tecermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali masuk zona ekspansi pada Juli 2026.
“Dari sisi manufaktur, pemulihan Purchasing Managers’ Index (PMI) ke 50,2 pada Juli 2026 menjadi sinyal positif setelah sempat terkontraksi pada Juni 2026,” ujar Adji, dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.
Diketahui, PMI Manufaktur Indonesia sebelumnya berada di level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 50,2 pada Juli 2026, menunjukkan adanya pemulihan aktivitas manufaktur.
Subsektor Ekspor Jadi Peluang Pertumbuhan
Lebih lanjut, pihaknya juga mencermati penguatan sejumlah subsektor manufaktur yang berorientasi ekspor, antara lain sektor tekstil dan alas kaki.
Baca juga: Rupiah Anjlok 6,71 Persen, Permata Bank Ungkap Penyebabnya Bukan Fundamental
Menurutnya, penguatan subsektor tersebut membuka peluang diversifikasi sumber pertumbuhan industri di tengah tekanan yang masih terjadi pada sektor pertambangan.
“Kami juga mencermati sejumlah subsektor berorientasi ekspor, seperti Tekstil dan Alas Kaki, yang justru menguat, sehingga membuka peluang diversifikasi mesin pertumbuhan industri di tengah tekanan pada sektor pertambangan,” ujarnya.
Perkembangan tersebut menjadi penting karena sektor manufaktur merupakan salah satu kontributor utama terhadap perekonomian Indonesia.
Risiko Global Bayangi Pertumbuhan Ekonomi
Selain tantangan domestik, perekonomian Indonesia masih menghadapi tekanan dari sisi eksternal. Dirinya menilai, kontribusi perdagangan luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi berpotensi melemah di tengah tingginya ketidakpastian global.
Baca juga: Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Ekonom Ingatkan Pentingnya Independensi
Sejumlah faktor yang menjadi perhatian antara lain perang dagang yang berkepanjangan, ketegangan geopolitik, serta pemulihan ekonomi Cina yang masih tertahan.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia sekaligus memperlebar defisit transaksi berjalan.
Ia juga mengantisipasi kemungkinan pelebaran defisit fiskal. Kombinasi defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal tersebut dikenal sebagai defisit kembar atau twin deficits.
Pelebaran twin deficits dapat meningkatkan risiko risk-off di pasar keuangan dan mendorong arus keluar modal asing dari Indonesia.
“Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit kembar (twin deficits) Indonesia, baik melalui defisit transaksi berjalan maupun defisit fiskal yang lebih lebar, yang pada gilirannya dapat memicu penghindaran risiko dan arus keluar modal asing,” bebernya.
Menurutnya, konsistensi investasi serta sinergi kebijakan fiskal-moneter ke depan menjadi kunci agar pertumbuhan Indonesia semakin ditopang oleh fondasi yang seimbang dan berkelanjutan, di tengah dinamika eksternal yang masih menantang. (*)
Editor: Yulian Saputra


