Poin Penting
- Bank BPD DIY membukukan laba bersih Rp165,15 miliar per Juni 2026, naik 6,69 persen secara tahunan, ditopang efisiensi biaya meski pendapatan bunga sedikit menurun
- Permodalan dan likuiditas Bank BPD DIY tetap kuat. CAR naik menjadi 40,54 persen, aset tumbuh 5,91 persen menjadi Rp21,26 triliun, sementara DPK meningkat 0,73 persen
- Meski kredit turun 5,21 persen, bank mampu meningkatkan efisiensi operasional dengan BOPO membaik ke 72,30 persen.
Jakarta – Bank BPD DIY membukukan laba bersih Rp165,15 miliar per Juni 2026, tumbuh 6,69 persen dari Rp154,80 miliar pada Juni 2025. Kinerja positif ini diraih di tengah kondisi pendapatan bunga yang sedikit terkoreksi, menunjukkan kemampuan Bank BPD DIY menjaga profitabilitas melalui pengelolaan biaya yang makin efisien.
Dipimpin Santoso Rohmad sebagai direktur utama Santoso Rohmad, bank ini mampu mempertahankan growth laba dengan fondasi bisnis yang tetap solid.
Mengutip laporan keuangan publikasi Bank BPD DIY pada Senin (27/7), pendapatan bunga bank ini tercatat Rp693,41 miliar, turun tipis 0,70 persen dibandingkan Juni 2025 yang mencapai Rp698,30 miliar. Tapi, beban bunga juga berhasil ditekan lebih dalam, turun 1,28 persen menjadi Rp105,11 miliar dari sebelumnya Rp106,48 miliar. Penurunan biaya dana itu membantu menjaga kemampuan bank menghasilkan laba meski tekanan terhadap pendapatan bunga masih terjadi.

Efisiensi pengelolaan dana membuat pendapatan bunga bersih atau net interest income tetap terjaga di level Rp588,30 miliar, hanya turun tipis 0,60 persen.
Di sisi lain, Bank BPD DIY berhasil memangkas beban operasional lainnya 3,54 persen menjadi Rp377,30 miliar. Langkah efisiensi itu menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan laba bersih Bank BPD DIY sepanjang semester pertama 2026.
Lebih jauh, pada fungsi intermediasi, kredit yang disalurkan Bank BPD DIY Rp11,04 triliun atau turun 5,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, kualitas kredit masih berada dalam batas yang sehat. Rasio NPL Gross tercatat 3,69 persen dan NPL Net 1,62 persen, di bawah ambang batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga risiko pembiayaan tetap terkendali.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh tipis 0,73 persen menjadi Rp13,98 triliun. Pertumbuhan itu terutama didukung oleh dana murah atau giro dan tabungan (CASA) yang naik 1,47 persen menjadi Rp10,34 triliun. Rasio dana murah juga meningkat dari 73,43 persen menjadi 73,97 persen, mencerminkan struktur pendanaan Bank BPD DIY yang makin efisien.
Kinerja aset juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Total aset Bank BPD DIY tumbuh 5,91 persen menjadi Rp21,26 triliun pada Juni 2026 dari Rp20,08 triliun setahun sebelumnya.
Sementara, modal inti meningkat 7,00 persen menjadi Rp4,33 triliun, memperkuat kapasitas bank ini untuk mendukung ekspansi usaha pada periode berikutnya.
Adapun dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau CAR meningkat menjadi 40,54 persen dari 37,24 persen pada Juni 2025. Hal itu menunjukkan tingkat permodalan Bank BPD DIY sangat kuat untuk menyerap berbagai potensi risiko sekaligus menjadi ruang yang cukup luas bagi pengembangan bisnis ke depan. Kondisi ini juga memperlihatkan fundamental bank ini tetap kokoh di tengah dinamika industri perbankan.
Berbagai rasio keuangan lainnya juga memperlihatkan performa yang relatif terjaga. BOPO membaik dari 73,54 persen menjadi 72,30 persen, yang menandakan efisiensi operasional semakin baik dan memberikan kontribusi terhadap kenaikan laba.
Baca juga: Kredit UMKM Mulai Pulih, OJK Optimistis Tumbuh Positif hingga Akhir 2026
Sedangkan ROA tetap stabil di level 2,03 persem, mencerminkan kemampuan Bank BPD DIY menjaga produktivitas aset dalam menghasilkan keuntungan, sementara ROE berada di level 7,68 persen, hanya sedikit berubah dari tahun sebelumnya sehingga kemampuan pengelolaan modal tetap terpelihara.
Sementara itu, rasio NIM berada di level 6,11 persen, masih menunjukkan bisnis inti penyaluran dana tetap memberikan margin yang baik meski sedikit lebih rendah dibanding tahun lalu. LDR tercatat 78,54 persen, masih berada dalam kisaran ideal 78 persen-92 persen, sehingga likuiditas bank ini tetap terjaga dengan baik.
Adapun CIR naik menjadi 56,84 persen dari 55,12 persen, tapi secara keseluruhan Bank BPD DIY tetap mampu menjaga performa bisnis melalui efisiensi biaya, kualitas aset yang sehat, serta permodalan yang kuat sehingga prospek pertumbuhan hingga akhir 2026 tetap terbuka. (*) Ari Nugroho


