Poin Penting
- Perry Warjiyo mundur dari Gubernur BI, analis proyeksikan IHSG melemah dengan support 6.060 dan resistance 6.300
- IHSG diperkirakan hanya mengalami koreksi wajar selama bertahan di atas level 6.060
- Investor menyoroti kredibilitas BI, sementara ketidakpastian kebijakan berisiko memicu volatilitas pasar.
Jakarta – Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) berpotensi menjadi sentimen negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini.
Hendra memperkirakan IHSG untuk perdagangan hari ini akan bergerak cenderung melemah dengan kisaran support di level 6.060 dan resistance di level 6.300.
“Selama IHSG masih bertahan di atas area support 6.060, tekanan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar sebagai respons atas sentimen pasar,” ucap Hendra dalam keterangannya di Jakarta, 27 Juli 2026.
Baca juga: Celios Beberkan Dampak Mundurnya Perry Warjiyo dari BI: Rupiah hingga Investor Terancam
Namun, menurut Hendra, apabila level tersebut ditembus disertai meningkatnya tekanan jual dan arus keluar dana asing, maka peluang pelemahan yang lebih dalam akan semakin terbuka.
“Sebaliknya, sentimen positif dari terkoreksinya harga minyak dunia berpotensi membantu meredam tekanan jual sehingga pelemahan IHSG diperkirakan tidak akan terlalu dalam,” imbuhnya.
Bagi investor, kata Hendra, posisi Gubernur BI merupakan salah satu jabatan yang sangat vital karena setiap keputusan terkait suku bunga acuan, kebijakan nilai tukar, pengendalian inflasi, hingga kebijakan makroprudensial akan memengaruhi pergerakan rupiah, pasar obligasi, maupun IHSG.
“Oleh karena itu, yang menjadi perhatian utama investor bukan sekadar pergantian sosok pemimpinnya, melainkan apakah kredibilitas, independensi, dan konsistensi kebijakan BI tetap terjaga,” jelas Hendra.
Baca juga: Begini Respons BCA usai Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI
Dia melanjutkan, selama proses transisi berlangsung dengan baik dan arah kebijakan moneter tidak berubah secara signifikan, dampak terhadap pasar diperkirakan hanya bersifat sementara.
“Namun, apabila muncul ketidakpastian mengenai arah kebijakan atau independensi bank sentral, volatilitas di pasar keuangan berpotensi meningkat, terutama pada nilai tukar rupiah, obligasi pemerintah, dan saham-saham sektor perbankan,” tutupnya. (*)
Editor: Galih Pratama


