Poin Penting
- Permata Bank mendorong pengelolaan kekayaan secara holistik melalui Wealth Wisdom 2026, mencakup aset, keluarga, bisnis, kontribusi sosial, hingga persiapan generasi penerus
- Di tengah pertumbuhan ekonomi dan dinamika pasar, Permata Bank menilai pengelolaan kekayaan perlu adaptif untuk menjaga nilai aset jangka panjang
- Wealth Wisdom 2026 mengusung enam pilar pengelolaan kekayaan dan digelar di tujuh kota, dengan fokus pada investasi, warisan, kesehatan, keluarga, hingga tujuan hidup.
Jakarta – PT Bank Permata Tbk atau Permata Bank terus mendorong pengelolaan kekayaan holistik yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan aset, melainkan mencakup keluarga, bisnis, kontribusi sosial, hingga persiapan generasi penerus.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari penyelenggaraan Wealth Wisdom 2026, platform literasi keuangan Permata Bank yang memasuki tahun ke-12.
Melalui program ini, bank berupaya mendampingi nasabah dalam mengelola kekayaan seiring perubahan kebutuhan finansial sepanjang perjalanan hidup.
Direktur Consumer dan Branch Banking Permata Bank, Eddie Sajoga mengungkapkan pengelolaan kekayaan perlu melihat kebutuhan nasabah secara menyeluruh.
“Kekayaan bukan hanya tentang seberapa besar aset bertambah, tetapi bagaimana kekayaan tersebut dapat memberikan manfaat,” ujar Eddie, dalam keterangannya, dikutip Senin, 24 Agustus 2026.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadikan Permata Bank tidak hanya melihat nasabah dari sisi individu, tetapi juga keluarga, bisnis, dan kebutuhan lintas generasi.
Baca juga: PIER: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Mesin Pertumbuhan Mulai Lebih Seimbang
“Melalui Wealth Wisdom, kami ingin terus tumbuh bersama nasabah, mendampingi nasabah di setiap perjalanan mereka dengan memberikan layanan finansial yang relevan sesuai kebutuhan nasabah di setiap episode perjalanan hidup,” katanya.
Ekonomi Tumbuh, Pengelolaan Aset Perlu Adaptif
Lanjutnya, Permata Bank sendiri menilsi kebutuhan pengelolaan kekayaan kian penting di tengah perubahan kondisi ekonomi dan pasar investasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen (year-on-year).
Di sisi lain, inflasi tahunan turut mengalami kenaikan menjadi 2,88 persen pada Juli 2026, dibanding 2,37 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, harga berbagai komoditas mengalami fluktuasi nilai seiring dengan pergeseran preferensi investor dan masyarakat dalam memilih instrument investasi yang dianggap aman.
Baca juga: Perbankan Jadi Jembatan Ekspansi Bisnis Indonesia-Thailand
“Kondisi ini juga menegaskan bahwa di balik fundamental ekonomi yang tetap solid, pengelolaan kekayaan yang cermat dan adaptif menjadi semakin krusial bagi individu maupun keluarga dalam menjaga nilai aset jangka panjang,” jelasnya.
Memaknai Kekayaan Secara Holistik
Wealth Wisdom 2026 lebih dari sekadar berbicara mengenai investasi. Pendekatannya mencakup strategi pengelolaan kekayaan, perencanaan warisan, hingga keseimbangan antara kesehatan dan kesejahteraan finansial melalui enam pilar utama, yakni Frugality, Purpose, Health, Relation, Giving, dan Moments.
Melalui rangkaian Wealth Wisdom di tujuh kota besar, nasabah akan mendapatkan berbagai perspektif pengelolaan kekayaan secara holistik mengenai perencanaan warisan, kesehatan, hubungan keluarga, serta tujuan hidup hingga bagaimana kekayaan dapat memberikan dampak lebih luas.
Sejumlah pakar ekonomi, investasi, kesehatan, pemimpin bisnis nasional dan figur publik akan berbagi insight untuk membantu nasabah dalam merancang strategi kekayaan yang seimbang dan menyeluruh.
Salah satunya, Lo Kheng Hong, investor saham kawakan yang dikenal luas dengan pendekatan value investing. Menurutnya,cinvestasi yang baik selalu dimulai dari pemahaman, bukan sekadar ikut arus.
“Sebelum menempatkan uang di mana pun, penting untuk benar-benar mengenal apa yang kita investasikan, bukan hanya tergiur oleh potensi keuntungan sesaat. Justru di sinilah letak ketangguhan seorang investor, yakni tetap tenang dan sabar di tengah perubahan pasar, karena nilai yang baik butuh waktu untuk benar-benar terlihat,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


