Poin Penting
- Perbamida mendorong BPR mendiversifikasi portofolio kredit dan memperluas pembiayaan berbasis komunitas
- Ketua Umum DPP Perbamida menegaskan BPR harus memanfaatkan keunggulan sebagai bank yang lincah
- Digitalisasi proses kredit, skema sindikasi yang terukur, serta analisis kredit berbasis cash flow dinilai menjadi strategi penting agar BPR mampu bersaing dengan pinjaman online.
Yogyakarta – Industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dituntut harus adaptif dalam menyusun strategi penyaluran kredit di tengah disrupsi digital dan meningkatnya persaingan dengan layanan pinjaman berbasis teknologi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Perhimpunan BPR/BPRS Milik Pemerintah Daerah (Perbamida), Sofia Nurkrisnajati Atmaja dalam acara Talkshow dan Penganugerahan Top 100 BPR 2026 yang digelar The Finance–Member of Infobank Media Group di Hotel Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Jumat (19/6/2026).
“Penyaluran kredit bagaimanapun juga menjadi denyut hidup BPR karena sumber utama pendapatan berasal dari kredit yang kita berikan. Yang bisa dilakukan adalah melakukan segmentasi pasar dengan baik agar portofolio kredit tidak terkonsentrasi pada satu sektor saja,” ujarnya.
Baca juga: LPS: Transformasi BPR/BPRS Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan
Menurut Sofia, sejumlah BPR memang memiliki portofolio kredit konsumtif yang didominasi oleh aparatur sipil negara (ASN). Namun, ia mengingatkan agar konsentrasi tersebut tidak terlalu besar karena tetap mengandung risiko.
“Mungkin ada teman-teman yang 60 persen kredit konsumtif kepada ASN. Tetapi jangan sampai 99,9 persen kepada ASN. Bagaimanapun juga di situ pasti ada risiko. Portofolio harus dibagi ke berbagai segmen,” tegas wanita yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT BPR Delta Artha Perseroda ini.
Selain melakukan diversifikasi sektor pembiayaan, Sofia mendorong BPR lebih agresif menggarap kredit berbasis komunitas, seperti kelompok tani, pedagang pasar, maupun pelaku usaha mikro di sekitar wilayah operasional.
Menurutnya, masih banyak BPR yang belum mampu mengoptimalkan potensi pasar di lingkungan terdekat.
“Apakah pasar di dekat kantor kita benar-benar sudah kita kuasai? Berapa persen pedagang di pasar sekitar yang menjadi nasabah kita? Jangan sampai masyarakat yang hanya berjarak satu kilometer dari kantor BPR justru tidak tahu bahwa kita ada,” katanya.
Ia menilai keunggulan utama BPR dibanding lembaga keuangan lain adalah fleksibilitas dalam merancang produk kredit sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan ukuran organisasi yang lebih kecil, BPR dinilai lebih cepat beradaptasi dibanding perbankan besar.
“Kita menang karena kita kecil dan bisa cepat beradaptasi. Kita bisa cepat menciptakan produk tanpa harus melalui proses yang panjang. Yang penting adalah memahami apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat di sekitar kita,” jelas Sofia.
Di tengah era digital, Sofia juga melihat peluang bagi BPR untuk memperluas penyaluran kredit melalui skema sindikasi. Namun, langkah tersebut harus disesuaikan dengan kapasitas modal, aset, serta kemampuan mitigasi risiko masing-masing bank.
“Sindikasi boleh dilakukan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan dan aset BPR. Jangan sampai terlalu ambisius hanya karena melihat peluang. Semua harus diukur berdasarkan kemampuan bank dalam mengelola risiko,” ujarnya.
Tak kalah penting, digitalisasi proses kredit dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar BPR mampu bersaing dengan perusahaan pinjaman online yang menawarkan proses pencairan cepat.
Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah kredit berbasis cash flow, terutama bagi nasabah yang memiliki pola menabung rutin.
Baca juga: Fraud Masih Hantui Industri BPR, LPS Tekankan Pentingnya Penguatan Tata Kelola
“Kalau ada nasabah yang setiap hari menabung Rp100 ribu secara konsisten, itu bisa menjadi dasar analisis kredit. Plafon pinjamannya bisa diberikan hingga tiga kali dari nilai tabungannya karena kita sudah mengetahui pola arus kas dan kebiasaan transaksinya,” terang Sofia.
Ia menambahkan, digitalisasi bukan semata-mata menghadirkan aplikasi, melainkan mempercepat proses pengambilan keputusan kredit sehingga mampu menjawab ekspektasi masyarakat.
“Pinjaman online berkembang sangat cepat dengan berbagai gimmick yang menarik masyarakat. Kalau mereka punya gimmick, lalu apa keunggulan kita? BPR harus menjawab itu melalui kecepatan layanan, kedekatan dengan nasabah, dan pemahaman terhadap karakter masyarakat,” pungkasnya. (*)


