Poin Penting
- Eskalasi konflik AS-Iran kembali meningkat setelah serangan Amerika Serikat memicu ancaman balasan dari Teheran
- Rupiah melemah 30 poin menjadi Rp17.774 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu.
- Kenaikan harga minyak dan ekspektasi kenaikan bunga The Fed menambah tekanan terhadap rupiah.
Jakarta – Eskalasi Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah serangan Pentagon memicu ancaman balasan dari Teheran. Situasi tersebut turut menekan rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu, 2 September 2026.
Nilai tukar rupiah turun 30 poin atau 0,17 persen ke Rp17.774 per dolar AS. Posisi tersebut melemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.744 per dolar AS.
Di Iran, ketegangan meningkat setelah serangan AS menyasar sejumlah wilayah. Serangan tersebut dilaporkan turut mengenai lokasi acara pernikahan di Kabupaten Sirik.
Baca juga: Menlu Iran Bongkar Dugaan Permainan Pejabat AS di Balik Harga Energi
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan Teheran akan merespons serangan tersebut dengan tegas. Ia menyebut lebih dari 50 pria, wanita, dan anak-anak tewas atau terluka.
Baqaei mengatakan serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang serangan yang lebih luas. Serangan juga dilaporkan terjadi di Minab, Lamerd, Qeshm, dan sejumlah daerah lainnya.
“Daftar kekejaman Amerika Serikat terhadap bangsa Iran kini telah lengkap,” katanya seperti dikutip dari Antara.
Baqaei juga mengkritik pemerintah dan lembaga internasional yang memilih diam. Ia memperingatkan pihak yang tetap diam akan menghadapi konsekuensi pada masa mendatang.
“Kebungkaman mereka bukanlah netralitas,” ujarnya.
Komando Pusat militer AS atau CENTCOM kemudian mengumumkan serangan terhadap target IRGC. Setelah pengumuman tersebut, ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Iran.
Media Iran melaporkan ledakan terjadi di Qeshm, Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, dan Konarak. Televisi pemerintah Iran juga melaporkan Bandara Jiroft di Provinsi Kerman menjadi sasaran.
Iran Ancam Balas Serangan AS
Korban serangan di Kuhestak, Sirik, juga bertambah berdasarkan laporan otoritas setempat. Wakil Gubernur Hormozgan, Ahmad Nafisi, menyebut jumlah korban luka mencapai 68 orang.
Sebelumnya, Nafisi melaporkan empat orang meninggal akibat serangan tersebut. Lokasi yang diserang disebut menjadi tempat warga Iran merayakan acara pernikahan.
Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi memastikan adanya ancaman pembalasan. Ia menegaskan serangan terhadap warga sipil tidak akan dibiarkan.
“Jangan salah, kejahatan ini tidak akan dibiarkan begitu saja,” kata Azizi. Ia juga menyebut tekad Angkatan Bersenjata Iran akan melindungi kepentingan negaranya.
Baca juga: Trump Ancam Sanksi Bank China yang Nekat Bermitra dengan Iran
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan penyelesaian konflik melalui perundingan. Seruan tersebut disampaikan ketika aksi saling serang kembali terjadi antara kedua negara.
“Kita membutuhkan perundingan menuju perdamaian yang adil dan abadi, lebih dari sebelumnya,” tulis Guterres. Ia menekankan pentingnya hukum internasional, Piagam PBB, dan resolusi terkait.
Guterres juga menyoroti pelanggaran terhadap perjanjian serta gencatan senjata yang telah disepakati. Menurutnya, kondisi tersebut membuat aksi saling serang kembali terjadi.
Perang AS-Iran Tekan Rupiah dan Picu Risiko Inflasi
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai rupiah masih menghadapi tekanan. Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.750 – Rp17.820,” kata Rully.
Tekanan tersebut berkaitan dengan kenaikan harga minyak akibat meningkatnya eskalasi konflik AS-Iran.
Pasar juga menghadapi sentimen dari meningkatnya ekspektasi inflasi AS. Kondisi tersebut memperbesar peluang pengetatan moneter oleh The Fed.
Baca juga: Selat Hormuz Memanas, Iran Siapkan RUU Larang Kapal Negara Musuh Masuki Teluk
Ekspektasi kenaikan bunga The Fed pada September meningkat menjadi 66 persen. Sebelumnya, probabilitas kenaikan tersebut hanya berada pada level 35 persen.
Rully memperkirakan suku bunga dapat naik 25 basis poin menjadi 4 persen. Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan rupiah.
Dari dalam negeri, tekanan rupiah juga datang dari surplus perdagangan yang semakin kecil. Permintaan dolar AS meningkat seiring kebutuhan pembayaran impor yang lebih tinggi.
Inflasi domestik turut menjadi perhatian pasar karena trennya dinilai cukup tinggi. BPS mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan.
Di sisi lain, neraca perdagangan barang Indonesia masih mencatat surplus sebesar 3,70 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juli 2026.
Perkembangan konflik dan harga minyak menjadi perhatian pasar dalam waktu dekat. Tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut jika Perang AS-Iran kembali meningkatkan ketidakpastian global. (*)
Editor: Yulian Saputra


