Poin Penting
- Penguatan SDM dinilai menjadi kunci menjaga daya saing industri sawit di tengah tantangan global dan perkembangan teknologi
- Hingga 2025, BPDP telah menyalurkan beasiswa kepada 13.265 peserta dan melatih 32.152 petani sawit
- Pada 2026, BPDP menargetkan 5.000 penerima beasiswa baru untuk mendukung kebutuhan SDM industri sawit.
Jakarta – Penguatan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya saing dan keberlanjutan industri kelapa sawit nasional di tengah tantangan industri yang semakin kompleks.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengatakan kebutuhan industri sawit ke depan tidak hanya bergantung pada produktivitas perkebunan, tetapi juga pada kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi teknis, manajerial, hingga penguasaan teknologi.
Menurutnya, pengembangan SDM sawit harus mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang, termasuk untuk mendukung transformasi dan keberlanjutan sektor perkebunan sawit nasional.
“Selain meningkatkan kualitas SDM saat ini, pengembangan tersebut harus mampu memenuhi kebutuhan industri kelapa sawit pada masa mendatang,” katanya di Jakarta, Sabtu, 28 Maret 2026.
Baca juga: ISEI Riau Desak Pemerintah Ubah Skema DBH Sawit, Tolak Porsi 4 Persen untuk Daerah
Ia menjelaskan, pengembangan SDM sawit perlu mencakup peningkatan kualitas, keragaman keterampilan, serta ketersediaan tenaga kerja yang memadai di seluruh rantai industri. Hal tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan industri sawit nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Tungkot menilai, kebutuhan SDM industri sawit juga akan semakin meningkat seiring penguatan hilirisasi dan penerapan teknologi di sektor perkebunan maupun pengolahan.
Dalam mendukung pengembangan SDM tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menjalankan program beasiswa pendidikan dan pelatihan teknis bagi sektor sawit. Program tersebut dikelola bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
“Sejak awal berdiri BPDP telah mempersiapkan SDM industri sawit melalui penyediaan beasiswa pendidikan sarjana untuk anak-anak petani sawit. Program ini merupakan suatu reinvestasi dana pungutan ekspor,” ujarnya.
Berdasarkan data tahun 2025, sebanyak 13.265 peserta telah menerima beasiswa pengembangan SDM sawit di berbagai perguruan tinggi. Sementara program pelatihan teknis telah menjangkau sekitar 32.152 petani kelapa sawit.
Adapun pada 2026, BPDP menargetkan kuota beasiswa mencapai 5.000 mahasiswa baru dengan fokus pada penguatan kompetensi teknis dan teknologi perkebunan.
Meski demikian, Tungkot menilai kapasitas pengembangan SDM sawit masih perlu terus diperbesar untuk memenuhi kebutuhan industri dalam jangka panjang.
Baca juga: Sawit Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Ini Buktinya
“Memang jika dibandingkan dengan kebutuhan peningkatan maupun penyiapan SDM industri sawit yang diperlukan, apa yang telah dilakukan BPDP tersebut masih perlu diperbesar pada yang akan datang,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan kualitas SDM menjadi salah satu kunci agar industri sawit Indonesia mampu bersaing dengan negara produsen lain seperti Malaysia, sekaligus menghadapi tuntutan industri global yang semakin kompetitif.
“Inilah tantangan terbesar dalam SDM industri sawit kita. Bagaimana reinvestasi dana sawit untuk membangun dan mempersiapkan SDM sawit yang lebih unggul dari negara pesaing kita bahkan lebih unggul dari industri lain,” pungkasnya. (*) Ayu Utami


