Poin Penting
- Sawit berkontribusi 3,5 persen ke PDB dan jadi kunci pertumbuhan ekonomi nasional
- Ekspor sawit tetap kuat, tumbuh dua digit dan menopang devisa
- Program B50 dorong efisiensi Rp31 triliun, ketahanan energi, dan dampak ekonomi luas.
Jakarta – Industri kelapa sawit dinilai menjadi salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tercatat, sektor ini menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 3,5 persen.
Deputi I Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara, Ferry Irawan, mengatakan kontribusi tersebut menunjukkan posisi strategis industri sawit dalam menopang ekonomi Indonesia.
“Dalam konteks PDB nasional ini, peran kelapa sawit kontribusinya 3,5 persen. Jadi memang salah satu kunci kita untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi ada di sawit,” ujar Ferry, dalam acara InvestorTrust “Power Talk Energy” di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.
Ia menjelaskan, kinerja ekspor sawit menunjukkan tren impresif. Pada 2023, misalnya, nilai ekspor tembus USD38 miliar dengan volume 32,22 juta ton, naik 10,25 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Adapun, hingga kuartal I 2024, volume ekspor tercatat 8,4 juta ton, naik 11,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan produk utama berupa RBD Palm Olein.
Baca juga: Industri Melambat, Begini Jurus ACA Jaga Pertumbuhan Premi
“Jadi kuartal I masih oke. Bayangan saya masih 11 persen tumbuh. Hal ini menunjukkan industri kelapa sawit itu tidak hanya jadi penggerak ekspor tapi juga sumber devisa, penggerak industri hilir, maupun tulang punggung perekonomian nasional,” bebernya.
Dorong Kemandirian Energi Lewat B50
Sejalan dengan itu, pemerintah kata Ferry terus mengoptimalkan peran strategis sawit melalui kebijakan energi. Satu diantaranya, penerapan program biodiesel 50 persen (B50) yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2025.
Program ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kontribusi ekspor dan peningkatan pemanfaatan domestik, sekaligus upaya ketahanan energi nasional di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“B50 menjadi bagian dari upaya menjaga buffer ekonomi, baik dari sisi pertumbuhan, inflasi, maupun ketahanan energi,” kata Ferry.
Baca juga: Industri Alat Pertanian Indonesia
Ia bilang, Iimplementasi kebijakan satu ini diperkirakan mampu mengerek efisiensi anggaran hingga Rp31 triliun melalui penghematan insentif biodiesel dan pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM).
“Dengan implementasi dari B50, paling tidak pemerintah bisa menjaga efisiensi anggaran paling tidak Rp31 triliun yang berasal dari penghematan anggaran insentif biodiesel dari BPDPKS dan pengurangan kebutuhan impor BBM-nya,” bebernya.
Dampak Ekonomi Signifikan
Berdasarkan catatan pihaknya, secara keseluruhan, program mandatori biodiesel berbasis sawit turut berkontribusi bagi ekonomi nasional. Pada 2023, penghematan devisa tercatat sebesar Rp122,6 triliun dan diproyeksikan melonjak menjadi Rp157,4 triliun pada 2024.
Selain itu, nilai tambah crude palm oil (CPO) mencapai Rp15,8 triliun pada 2023 dan diperkirakan naik menjadi sekitar Rp18 triliun pada 2024.
Dari sisi ketenagakerjaan, industri sawit menyerap sekitar 1,65 juta tenaga kerja pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,7 juta pada 2024. Hal ini menjadikan sektor sawit sebagai salah satu pilar penting dalam penciptaan lapangan kerja nasional.
Di aspek lingkungan, pemanfaatan biodiesel juga berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon, dari sekitar 32,5 juta ton CO2 pada 2023 menjadi 36,9 juta ton CO2 pada 2024. (*)
Editor: Galih Pratama




