Poin Penting
- Pengangguran lulusan perguruan tinggi mencapai 1,03 juta orang atau 14,31 persen dari total pengangguran berdasarkan data Sakernas Mei 2026
- Mendiktisaintek Brian Yuliarto meminta lulusan tidak membatasi masa depan berdasarkan ijazah, tetapi terus belajar, menguasai teknologi baru, beradaptasi, dan berani mencoba bidang baru.
- Perguruan tinggi dinilai memiliki tanggung jawab membentuk lulusan berkompetensi dan berintegritas.
Jakarta – Jumlah pengangguran berlatar pendidikan perguruan tinggi masih menjadi perhatian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, jumlah pengangguran lulusan universitas telah menembus angka 1 juta orang per Mei 2026.
Di tengah persoalan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta para lulusan perguruan tinggi tak menjadikan ijazah sebagai batas dalam menentukan masa depan.
“Janganlah membatasi masa depan Saudara hanya berdasarkan apa yang terpoles pada ijazah Saudara hari ini. Gelar Saudara semua adalah pondasi, dia bukanlah batas,” ujar Brian dalam orasi ilmiah Wisuda Perbanas Institute, di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Brian, para lulusan perguruan tinggi harus terus mengasah kemampuan di tengah perubahan teknologi dan dunia kerja. Sebab, ilmu yang diraih di bangku kuliah merupakan fondasi awal bagi lulusan untuk mengembangkan kompetensi.
Baca juga: Lapor Pak Prabowo! Pengangguran RI Tembus 7,24 Juta Orang
“Setelah ini Anda sekalian harus menambah kemampuan baru, belajar teknologi baru, membaca perubahan, mendengarkan orang lain, dan berani memasuki wilayah-wilayah baru yang mungkin tidak pernah dipelajari di ruang-ruang kelas,” jelasnya.
Lulusan Diminta Tak Takut Gagal
Brian menegaskan, lulusan perguruan tinggi agar tidak takut mengalami kegagalan. Menurutnya, kegagalan menjadi proses yang harus dihadapi dalam meraih kesuksesan.
“Jadi jangan pernah takut untuk gagal, tetapi yang membedakan seseorang adalah apakah dia bisa bangkit kembali setelah gagal,” ujarnya.
Ia bilang, perjalanan karier seseorang tidak akan berjalan mulus. Sebagian lulusan nantinya akan masuk ke sektor perbankan dan keuangan, pemerintahan, perusahaan hingga wirausaha.
Karena itu, dirinya meminta para lulusan tidak harus mengetahui seluruh tujuan karier sejak awal. Terpenting, terus bergerak, belajar, dan menjaga prinsip.
Baca juga: Pengangguran Global Diproyeksi Naik, ILO Warning Pendapatan Buruh Anjlok
“Tidak semua karier berjalan dengan garis lurus. Yang penting adalah Saudara terus bergerak, terus belajar, dan terus menjaga Kompas,” bebernya.
Perguruan Tinggi Punya Tanggung Jawab Besar
Di sisi lain, ia mendorong perguruan tinggi untuk bisa menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan dan kompetensi tinggi. Namun, tugas univertas tidak berhenti pada menghasilkan yang memiliki pengetahuan.
Perguruan tinggi kata dia harus membentuk karakter intelektual, keberanian mencari kebenaran, kerendahan hati, disiplin terhadap data dan fakta, kemampuan bekerja sama dengan orang lain, dan keberanian mempertahankan prinsip ketika berada dalam situasi yang sulit.
“Karena sesungguhnya integritas bukan diuji ketika semua keadaan mudah. Integritas diuji ketika kita memiliki kesempatan mengambil jalan pintas, tetapi memilih untuk tidak melakukannya,” pungkasnya.
Diketahui, dalam data statistik distribusi pengangguran berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, jumlah lulusan D4 hingga S3 yang menganggur dalam Sakernas Mei 2026 adalah 14,31 persen.
Jika dihitung, maka jumlahnya 1.033.182 orang atau sekitar 1 juta orang. (*)
Editor: Galih Pratama


