Poin Penting
- Rupiah melemah ke Rp17.876 per dolar AS dan berpotensi tembus Rp18.000 per dolar AS.
- Konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak dunia menjadi tekanan utama rupiah.
- Capital outflow, impor minyak, dan kebutuhan dolar domestik turut memperlemah rupiah.
Jakarta – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Rupiah telah menyentuh level Rp17.876 per dolar AS per pukul 11.13 WIB atau melemah 0,42 persen.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi meperkirakan rupiah pada perdagangan besok atau Jumat (29/5/2026) diperkirakan bisa tembus ke Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dari eksternal maupun internal.
Ibrahim menjelaskan, dari eksternal, geopolitik di Timur Tengah semakin memanas akibat AS melakukan penyerangan terhadap instalasi di Iran, terutama Iran Selatan. Hal itu berpotensi adanya serangan balik dari Iran.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Bisa Picu PHK Massal, Begini Respons Menaker
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga melontarkan ancaman terhadap Oman yang selama ini menjadi mediator negosiasi antara Iran dan AS.
Selain itu, AS tengah mempersiapkan perang dalam skala besar dengan Iran berdasarkan data dari intelejen Rusia, bahkan AS kan menggunakan milisi ISISI di Suriah untuk melakukan penyerangan.
“Di sisi lain pun juga kapal-kapal besar, kapal-kapal canggih Amerika sudah mendarat di Israel. Artinya apa? Bahwa kemungkinan besar dalam jeda waktu genjatan senjata ini akan digunakan oleh Amerika dan Israel untuk memperkuat posisinya melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran,” ujar Ibrahim, Kamis 28 Mei 2026.
Ibrahim menyebutkan, kondisi tersebut akan membuat ketegangan di Selat Hormuz dan memicu harga minyak dunia melonjak.
Di domestik, Ibrahim menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah di dorong oleh harga minyak dunia yang naik, kebutuhan dolar yang meningkat akibat impor minyak yang cukup besar, serta pembayaran dividen, utang jatuh tempo, hingga masyarakat yang memindahkan tabungannya ke valuta asing (valas).
“Dibarengi juga dengan manajemen yang bobrok di pemerintahan tentang masalah MBG kemudian yang terakhir adalah kooperasi merah putih yang membuat negara mengalami kerugian puluhan trilliun. Walaupun MBG sekarang sudah sedikit dihentikan sebagian tetapi rupanya sekarang pasar tertuju terhadap koperasi merah putih yang menajemannya amburadul yang kemungkinan besar ini akan merugikan negara sebesar total Rp45 triliun,” ungkapnya.
Baca juga: Airlangga Ungkap Selisih Data Ekspor RI Capai Ratusan Triliun Rupiah
Menurutnya, hal itu membuat investor asing khawatir yang mengakibatkan arus modal asing keluar dari Indonesia cukup deras pada libur panjangi ini. Sementara, Bank Indoensia (BI) hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional.
“Kekuatan BI untuk melakukan intervensi ini sudah sekuat mungkin, tetapi kita harus tahu bahwa kekuatan eksternal dan internal ini cukup besar ya wajar kalaum seandainya rupiah mengalami pelemahan,” tambahnya.
Ibrahim memproyeksikan untuk perdagangan hari ini, rupiah akan melemah 100 poin atau di tutup di level Rp17.900 per dolar AS. (*)
Editor: Galih Pratama


